Sentimen di pasar saham Indonesia memang lagi panas. IHSG anjlok tajam awal pekan ini, melanjutkan tren negatif sejak akhir Januari lalu. Bahkan, Bursa Efek Indonesia sampai harus melakukan trading halt dua kali pada Rabu dan Kamis pekan sebelumnya. Situasinya cukup mencemaskan.
Namun begitu, respons dari Istana justru terlihat tenang. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Presiden Prabowo Subianto tidak menunjukkan kemarahan atas gejolak di pasar modal itu.
“Nggak ya,” kata Prasetyo saat ditanya wartawan soal kemarahan presiden, di SICC Sentul, Bogor, Senin lalu.
Menurutnya, reaksi emosi bukanlah jawaban. Yang lebih penting justru memahami akar masalahnya. “Kita semua harusnya begitu, bukan hanya Presiden. Tapi kan kita perlu pahami, apa sih yang bikin IHSG bisa turun signifikan? Nah, dari situlah kita cari jalan keluarnya,” ujarnya menambahkan.
Prasetyo justru melihat momen sulit ini sebagai peluang untuk membenahi pasar modal. Ia mengklaim pemerintah sudah bergerak sesuai arahan presiden, melakukan sejumlah reformasi dan perbaikan regulasi. Tujuannya jelas: membuat pasar saham Indonesia lebih terbuka, transparan, dan kredibel.
“Dengan harapan ini akan memiliki kelas setara dengan pasar-pasar bursa lain di dunia,” ucap Prasetyo.
Sayangnya, harapan itu belum terlihat di layar monitor para trader pagi itu. IHSG langsung ambruk hanya 17 menit setelah pembukaan. Indeks melorot 5,03 persen ke level 7.910,85. Tekanan jual terjadi di mana-mana; hampir 600 saham tercatat berwarna merah. Kapitalisasi pasar pun menyusut drastis, nyaris menyentuh angka Rp 14.284 triliun.
Sentimen negatifnya masih sama: teguran dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal transparansi dan kepemilikan saham. Belum lagi gelombang pengunduran diri empat petinggi OJK dan Dirut BEI akhir pekan lalu, yang jelas bikin suasana makin mencekam.
Meski sudah ada pengganti dan rencana pertemuan dengan MSCI, pasar seperti belum percaya. Isu tentang rencana masuknya Danantara ke BEI yang diungkap Menko Airlangga pekan lalu juga ikut menambah keruhnya situasi.
Analis pasar modal Wahyu Laksono dari Traderindo melihatnya dengan jelas. “Pasar masih cemas jelang deadline MSCI. Isu ancaman turun kelas IHSG,” katanya.
Ia menambahkan, langkah-langkah pemerintah sejauh ini rupanya belum cukup meyakinkan para investor untuk berbalik arah. Ketakutan masih lebih dominan.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020