PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), misalnya, dinilai punya bantalan fundamental yang kokoh berkat kombinasi bisnis emas dan nikel.
“Dengan rasio P/E sekitar 13 kali dan PBV 3 kali, ANTM juga ditopang narasi stabilisasi margin logam mulia dan potensi rerating BUMN tambang,” tulis riset tersebut.
Pendekatan defensif serupa terlihat pada PT United Tractors Tbk (UNTR). Dengan P/E sekitar 6 kali dan PBV di bawah 1, UNTR ditopang arus kas tambang yang stabil dan diversifikasi bisnis yang luas.
Di sisi lain, saham-saham seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), hingga PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) punya sensitivitas lebih tinggi terhadap gejolak harga emas spot.
Tapi jangan salah, ketiganya tetap dipandang menarik dari sisi prospek. EMAS dapat dukungan dari ekspektasi percepatan produksi di tambang Tujuh Bukit. ARCI diposisikan pasar sebagai murni permainan pertumbuhan emas. Sementara BRMS ditopang harapan akan lonjakan produksi dalam jangka menengah.
Dalam catatannya, BRI Danareksa menempatkan ARCI, UNTR, dan ANTM sebagai pilihan teratas di sektor emas. Tentu saja, keputusan akhir ada di tangan investor. Semua riset dan analisis hanyalah peta, sedangkan langkah investasi adalah pilihan masing-masing.
Artikel Terkait
Pandu Patria Sjahrir Tegaskan Demutualisasi BEI Tak Ganggu Independensi Regulator
Prabowo Tenang di Tengah Panik, IHSG Terjun Bebas ke Bawah 8.000
Krisis BEI, Danantara Soroti Reformasi Total untuk Pulihkan Kepercayaan
Peringatan MSCI Jadi Pemicu, Luhut: Saatnya Transformasi Pasar Modal