Pekan lalu, pasar keuangan global diguncang oleh aksi emas. Logam mulia yang sempat melesat ke rekor tertinggi sepanjang masa itu tiba-tiba berbalik arah. Dalam satu hari saja, harganya ambles nyaris 9 persen penurunan harian terdalam sejak era 80-an. Gejolak ekstrem ini tentu saja menarik perhatian, terutama bagi investor di pasar domestik.
Menurut sejumlah saksi, suasana tegang langsung terasa. Pergerakan itu berpotensi membayangi pembukaan perdagangan saham awal pekan ini, khususnya untuk emiten-emiten tambang emas di BEI. Tekanan jual di sesi pertama sangat mungkin terjadi, apalagi kondisi pasar domestik sendiri masih terlihat rapuh pasca dinamika terbaru dari MSCI.
Kekhawatiran ini punya dasar yang kuat. Sentimen global berubah dengan cepat, salah satunya dipicu pengumuman dari Gedung Putih tentang kandidat ketua The Fed. Aksi jual massive terjadi pada Jumat (30/1/2026). Harga emas spot sempat terjun bebas lebih dari 12 persen, menyentuh level USD 4.679,51 per troy ons, sebelum akhirnya ditutup melemah 8,84 persen di angka USD 4.895,44. Padahal, rekor baru saja tercipta sehari sebelumnya di level USD 5.594,82. Guncangan ini merembet ke perak yang juga ambles hampir 30 persen, mencatatkan salah satu hari terkelam untuk logam mulia.
Secara psikologis, kondisi seperti ini jelas berisiko. Investor jangka pendek biasanya sangat reaktif terhadap headline dan pergerakan harga spot, terlebih setelah reli panjang yang melelahkan. Risikonya kian nyata karena pasar kita sendiri masih berfluktuasi. Ingat saja peringatan MCSI soal isu investability, mulai dari transparansi kepemilikan hingga data free float yang kerap jadi masalah.
Namun begitu, penting untuk melihat sisi lain. Otoritas Indonesia dikabarkan sedang bergerak cepat menanggapi catatan-catatan tadi. Di sinilah letak perbedaan antara reaksi sesaat dan penilaian fundamental yang lebih mendalam.
Koreksi tajam harga emas lebih mencerminkan aksi ambil untung dan penyesuaian sentimen sesaat. Bukan perubahan tren struktural. Secara bulanan, emas masih naik 13,25 persen dan telah reli selama enam bulan berturut-turut, meski pekan lalu terkoreksi 1,85 persen. Artinya, volatilitas tinggi belum tentu menggerus prospek jangka menengah sektor ini.
Dari sisi emiten, riset dari BRI Danareksa Sekuritas pada Jumat (30/1) memberikan sudut pandang menarik. Mereka menilai valuasi saham emas domestik masih relatif menarik, bahkan cenderung undervalued, jika dibandingkan eksposur mereka terhadap harga emas.
Artikel Terkait
Pandu Patria Sjahrir Tegaskan Demutualisasi BEI Tak Ganggu Independensi Regulator
Prabowo Tenang di Tengah Panik, IHSG Terjun Bebas ke Bawah 8.000
Krisis BEI, Danantara Soroti Reformasi Total untuk Pulihkan Kepercayaan
Peringatan MSCI Jadi Pemicu, Luhut: Saatnya Transformasi Pasar Modal