Jakarta, 21-23 Agustus 2026. Indonesia Arena, Senayan, penuh sesak tiga malam berturut-turut. Bukan karena konser K-Pop, melainkan karena pergelaran Sabang Merauke – The Indonesian Monumental Performing Arts – kembali digelar untuk ketujuh kalinya sejak 2022. Tahun ini mengusung tema "Hikayat Srikandi Nusantara".
Bukan cerita putri cantik yang menunggu pangeran. Ini cerita perempuan yang bertarung. Dari legenda Srikandi, Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, hingga Nyi Roro Kidul versi rakyat. Panggung ini menegaskan bahwa kekuatan Nusantara ada pada perempuan. Fokusnya bukan kecantikan, melainkan keberanian, keteguhan hati, keteladanan, dan peran perempuan dalam menjaga budaya. Pesan itu terasa relevan di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap melupakan peran perempuan sebagai penjaga api dapur, adat, dan tanah.
Pergelaran ini bukan pertunjukan tari biasa. Ia kolosal, semacam Broadway versi Indonesia. Dalam dua jam, penonton diajak berkeliling Nusantara melalui teater dan cerita yang menjadi tulang punggung, lengkap dengan narasi, dialog, dan konflik. Tari tradisional dan kontemporer bertabrakan indah; Tari Saman bertemu hip-hop, Pendet berdampingan dengan modern dance. Orkestra dan alat musik tradisional seperti gender, suling, dan sasando dimainkan bersama 60 pemain orkestra, menghasilkan harmoni yang merinding. Paduan suara membawakan lagu-lagu Nusantara, dari "Bungong Jeumpa" hingga "Apuse", yang membuat bulu kuduk berdiri. Parade busana dengan wastra etnik menjadi sorotan: tenun, songket, ulos, dan batik berjalan di atas panggung. Sebanyak 1.500 kostum dikenakan, bukan sekadar kostum, melainkan arsip hidup.
Skalanya sungguh luar biasa. Data mencatat 1.700 pelaku produksi terlibat, termasuk 700 seniman dan 387 penari dari Sabang sampai Merauke. Semua dikemas megah, modern, dan teatrikal. Pantas jika disebut "The Indonesian Monumental Performing Arts", karena ini bukan konser, melainkan sebuah perjalanan.
Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika lampu dimatikan, hanya menyisakan sorotan pada seorang penari Dayak perempuan yang memegang mandau. Di layar LED di belakangnya, tampak hutan Kalimantan terbakar. Ia tidak berbicara, hanya menari, dan seluruh arena menjadi hening.
Sabang Merauke 2026 membuktikan tiga hal. Pertama, bangsa ini kaya akan cerita, tinggal berani mengangkatnya. Kedua, keberagaman bisa disatukan, asalkan ada sutradara yang menghormati akar budaya. Ketiga, perempuan adalah poros, dari dulu, sekarang, dan nanti. Ini bukan sekadar hiburan, melainkan kurikulum kebangsaan selama dua jam. Setelah keluar dari arena, yang dibawa pulang bukan sekadar foto, melainkan rasa bangga dan pertanyaan: "Srikandi di rumahku siapa?"
Untuk pergelaran ketujuhnya, Sabang Merauke tidak hanya lebih besar, tetapi juga lebih dalam. Right or wrong, my people. Dan malam itu, "my people" bersama-sama menari dan menyanyi di satu panggung.