RSUP Kariadi Berhasil Pisahkan Kembar Siam Ischiopagus Tetrapus

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 23:50 WIB
RSUP Kariadi Berhasil Pisahkan Kembar Siam Ischiopagus Tetrapus

RSUP Dr. Kariadi Semarang berhasil melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam asal Jepara. Kedua bayi, Shayna Yumna Arcilla dan Shazia Yumna Arasely, lahir dalam kondisi dempet di bagian tulang panggul bawah, yang dikenal sebagai Ischiopagus Tetrapus.

Ketua tim operasi, dr Agoes Wibisono, mengungkapkan bahwa sebelum tindakan, kedua bayi yang lahir pada 12 Januari 2025 itu telah menjalani serangkaian perawatan dan persiapan bertahap. "Operasi pemisahan dilaksanakan pada 28 Juli 2026. Operasinya sekitar 12 jam," ujarnya, Jumat (21/8).

Sebanyak 20 dokter terlibat dalam operasi ini, mulai dari spesialis anak, bedah anak, kandungan, urologi, ortopedi, anestesi, hingga bedah plastik. "Kita sepakat untuk melakukan pemisahan dan alhamdulillah berjalan lancar. Kami pisahkan pada usia 1 tahun 6 bulan karena menunggu kandung kemihnya besar agar bisa dipisahkan," jelas Agoes.

Kondisi kedua bayi memang kompleks. Anus, vagina, dan kandung kemih mereka menyatu. "Jadi dua usus bayi itu bergabung menjadi satu sehingga kita buat lubang BAB dulu agar mereka bisa makan, bisa minum dengan baik," tambahnya.

Operasi ini merupakan yang keempat kalinya dilakukan RSUP dr Kariadi untuk kasus kembar siam. Menariknya, biaya operasi ditanggung bersama oleh para dokter dan karyawan rumah sakit. "Biaya yang sudah dikeluarkan sampai hari ini masing-masing berkisar Rp 200 juta," sebut Agoes.

Sebelum operasi, tim dokter juga melakukan pendekatan intensif kepada keluarga. "Sejak awal kita libatkan seluruh tim untuk diskusi dengan keluarganya, dengan ayah, ibu, dan neneknya. Kita sampaikan bagaimana kesulitannya dan apa yang terjadi selanjutnya. Dari situ keluarga mantap dan mempercayakan kepada kami," ungkap Agoes.

Direktur Utama RSUP Dr. Kariadi, Agus Akhmadi, menambahkan bahwa meski kedua bocah itu sudah diperbolehkan pulang, pemantauan tetap dilakukan. "Kami juga berkoordinasi dengan Dinkes Jepara dan Puskesmas Nalumsari 1 agar terus dipantau tumbuh kembangnya, kesehatan, dan rehabilitasinya," imbuhnya.

Soal biaya, Akhmadi menjelaskan bahwa sebagian ditanggung BPJS dan sebagian lagi berasal dari sumbangan para tenaga medis. "Jadi kan kami RS tipe A rujukan. Kalau ada yang bisa ditanggung BPJS ya ditanggung, tapi kalau tidak, masa nggak kita urusin?" ucapnya.

Sementara itu, sang ayah, Solihul Huda (29), menceritakan bahwa kondisi kembar siam sudah terdeteksi sejak kandungan berusia 4 bulan. "Sudah terdeteksi di usia 4 bulan kandungan. Makanya langsung dirujuk ke Kariadi," ungkapnya.

Kini, Huda dan keluarga merasa sangat bahagia. "Alhamdulillah rasanya senang. Terima kasih untuk tim dokter, direktur, suster yang sudah merawat anak saya. Ini anak kedua dan ketiga saya. Dibantu semua oleh dokter di sini," kata Huda yang bekerja sebagai kuli bangunan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags