Ratna Sari Dewi Kembali ke Istana, Kenang Masa Lalu dan Peran di Sisi Sukarno

- Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:36 WIB
Ratna Sari Dewi Kembali ke Istana, Kenang Masa Lalu dan Peran di Sisi Sukarno

Kehadiran Ratna Sari Dewi, istri keenam Presiden Pertama RI Sukarno, dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8), menyita perhatian publik. Perempuan yang akrab disapa Dewi Sukarno itu kembali menjejakkan kaki di kawasan yang pernah menjadi bagian hidupnya bersama Sukarno. Momen tersebut membangkitkan ingatannya tentang wujud Istana di masa lalu.

Dewi mengaku terkejut melihat perubahan besar pada kompleks Istana. “Saya kaget sekali istananya sudah ganti banyak ya, ada gedung yang dulu tidak ada. Dulu antara Istana Negara dan Istana Merdeka ada halaman yang besar, sekarang ada gedung,” ujarnya saat hadir dalam peringatan HUT ke-81 RI.

Di balik momen nostalgia itu, kisah cinta Dewi dan Sukarno serta peran yang dimainkannya di sisi sang presiden menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah. Siapa sebenarnya Ratna Sari Dewi?

Masa Kecil di Tengah Perang

Ratna Sari Dewi lahir di Tokyo pada 6 Februari 1940 dengan nama asli Naoko Nemoto. Ia adalah putri ketiga dari seorang pekerja konstruksi migran di Tokyo. Keluarganya sederhana, sehingga sejak muda Naoko harus bekerja sebagai pramuniaga di sebuah perusahaan asuransi jiwa di Chiyoda untuk menopang kehidupannya.

Masa kecilnya diwarnai pengalaman pahit saat Tokyo dilanda Perang Dunia II. Di usia dua tahun, ia menyaksikan langsung pesawat bomber B-29 menjatuhkan bom-bom besar di seantero kota. Trauma itu membekas hingga dewasa.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Togai School, Tokyo, mulai sekitar tahun 1946. Kemudian, pada 1952-1955, ia melanjutkan ke Koryo School dan Mita School, keduanya di Tokyo. Sejak remaja, Dewi tertarik pada seni dan sastra. Ia mempelajari tarian klasik Jepang, bernyanyi, dan bermain drama di Sishere Hayakawa Art Production. Ketertarikan inilah yang membawanya ke dunia entertainment.

Untuk mengasah kemampuannya, Dewi belajar bahasa Inggris. Keputusan itu kelak menjadi pintu menuju pertemuannya dengan Sukarno.

Awal Pertemuan dengan Sukarno

Ada dua versi mengenai pertemuan pertama Dewi dan Sukarno. Versi pertama menyebut mereka bertemu di Copacabana Super Club, klub mewah di Akasaka yang hanya dikunjungi pejabat dan pengusaha besar. Versi kedua, yang lebih banyak dikisahkan, menyebut pertemuan itu terjadi di Hotel Imperial. Keduanya merujuk pada tanggal yang sama: 16 Juni 1959.

Saat itu, Dewi berusia 19 tahun. Kecantikannya dan kemahirannya dalam seni lukis, sastra, dan drama membuat Sukarno jatuh hati. Setelah pertemuan pertama, Sukarno mengirim undangan kepada Dewi untuk datang ke Indonesia. Ia tiba di Jakarta pada 14 September 1959.

Setelah melalui berbagai proses, pada 3 Maret 1962, Dewi resmi menjadi istri keenam Sukarno. Namun, hubungan mereka bukan sekadar kisah cinta. Selama mendampingi Sukarno, Dewi memainkan peran penting di berbagai bidang, mulai dari seni, politik, hingga ekonomi.

Bung Karno sangat mencintai Dewi. Bahkan, ia pernah berpesan: “Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai istri yang aku cintai dengan segenap jiwanya. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal, kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku…”

Di balik parasnya yang cantik, Dewi dikenal piawai dalam bernegosiasi. Sukarno yang hobi melukis, sementara Dewi sangat apresiatif terhadap seni rupa, membawa keduanya pada pencapaian penting. Pada tahun 1964, Dewi berhasil melakukan lobi-lobi di Jepang sehingga sebagian koleksi lukisan Bung Karno yang dibukukan dapat dicetak di Negeri Matahari Terbit. Kemampuan negosiasinya itu mewujudkan salah satu keinginan Sukarno untuk mempublikasikan karya seninya.

Peran di Sisi Sukarno

Di antara istri-istri Sukarno, Dewi adalah satu-satunya yang berpenampilan modis dan mengikuti gaya Barat. Penampilannya itu membuatnya sering mendampingi Sukarno dalam pertemuan dengan pemimpin atau perwakilan negara asing, seperti Duta Besar Italia dan Belanda.

Daya tarik dan kepercayaan Sukarno kepada Dewi membuatnya kerap “diperebutkan” oleh perusahaan-perusahaan yang ingin memenangkan hati sang presiden. Pada 1964, Dewi terpilih menjadi Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang. Ia juga mendirikan Komunitas Nadeshiko, yang beranggotakan wanita-wanita Jepang yang menikah dengan orang Indonesia.

Namun, ketika Dewi berusaha memperkuat posisinya sebagai first lady, kedudukan Sukarno mulai terancam setelah meletusnya peristiwa G 30/S. Pada periode genting itu, Dewi bertemu dengan Soeharto untuk “bernegosiasi” mengenai keadaan suaminya. Dari pertemuan tersebut, Dewi menyadari bahwa Sukarno telah kalah dalam “pertandingan”.

Tiga tahun setelah Sukarno meninggal, pada 1973, Dewi menerbitkan sembilan surat yang ditujukan kepada Presiden Soeharto. Surat-surat itu sebenarnya pernah dimuat di “Vrij Nederland” pada 16 Desember 1970, saat kondisi Sukarno kritis. Terjemahan bahasa Indonesianya sempat dicekal oleh pemerintah Orde Baru dan baru bisa terbit pada 1998 dengan judul “Mencekik dengan Kain Sutera”.

Setelah kepergian Sukarno, Dewi pindah ke berbagai negara di Eropa sebelum akhirnya kembali ke Jepang pada 2008. Di sana, ia aktif sebagai pebisnis di bidang perhiasan dan kosmetik. Meski begitu, jiwa entertainment-nya tak pernah padam. Ia kerap tampil di layar TV Jepang, salah satunya menjadi juri dalam berbagai kontes kecantikan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags