Nasionalisme dalam Kehadiran Negara Saat Bencana

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:36 WIB
Nasionalisme dalam Kehadiran Negara Saat Bencana

Setiap Agustus, Indonesia kembali merayakan kemerdekaan dengan berbagai simbol: bendera Merah Putih, lagu kebangsaan, dan upacara. Namun, nasionalisme memiliki wajah lain yang lebih sunyi, yang terlihat jelas saat bencana melanda. Ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur, masyarakat tidak membutuhkan slogan, melainkan pertolongan nyata: makanan, layanan kesehatan, listrik, komunikasi, tempat tinggal, dan kepastian bahwa mereka tidak sendirian. Di situlah nasionalisme menemukan makna paling konkret.

Bencana adalah ujian bagi sebuah bangsa. Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nagekeo, NTT, menimbulkan korban dan kerusakan. Indonesia, dengan kompleksitas geografisnya, memiliki tantangan besar dalam penanganan bencana. Setiap wilayah punya karakteristik risiko berbeda, namun satu hal seharusnya sama: setiap warga negara harus mendapat perlindungan dan pertolongan saat darurat. Di sinilah kemampuan negara diuji bukan hanya soal kerusakan, tetapi kecepatan birokrasi, koordinasi antarlembaga, kesiapan infrastruktur, distribusi bantuan, dan layanan dasar yang tetap berjalan.

Ketika Negara Bergerak Cepat

Dalam situasi darurat, waktu adalah segalanya. Satu jam bisa menentukan keselamatan seseorang; keterlambatan bantuan memperburuk keadaan; komunikasi yang terputus mempersulit pencarian. Karena itu, kecepatan respons negara sangat penting. Dalam penanganan gempa NTT, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan tim gabungan bergerak cepat. Kementerian dan lembaga seperti BNPB, Basarnas, serta BUMN (PLN, Telkom, Pertamina, Bulog) dikerahkan. Pemerintah juga mengirim 50.000 paket sembako dari Bantuan Presiden menuju Maumere.

Yang lebih penting dari jumlah bantuan adalah pesan yang disampaikan: negara harus mampu bergerak saat masyarakat membutuhkan. Peran presiden dalam koordinasi lintas kementerian menjadi krusial, karena dalam krisis, koordinasi bukan sekadar administrasi, melainkan menyangkut keselamatan manusia. Bagi masyarakat di lokasi bencana, kehadiran negara terasa melalui bantuan yang tiba, listrik yang menyala, komunikasi yang tersambung, dan aparat yang datang membantu.

Nasionalisme yang Bisa Dirasakan

Selama ini nasionalisme sering dipahami lewat simbol: bendera, lagu, upacara. Semua itu penting sebagai identitas, tetapi akan kehilangan makna jika berhenti di situ. Nasionalisme harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi korban bencana, nasionalisme adalah bantuan yang datang tepat waktu; bagi yang sakit, tenaga medis yang hadir; bagi yang kehilangan rumah, dukungan membangun kembali; bagi yang di daerah terpencil, jaminan tidak tertinggal dalam perlindungan. Kehadiran negara adalah bentuk paling konkret dari nasionalisme modern.

Indonesia memiliki modal sosial kuat: gotong royong. Saat bencana, relawan datang, dapur umum berdiri, donasi mengalir. Namun, gotong royong tidak boleh dipertentangkan dengan peran pemerintah; keduanya saling memperkuat. Masyarakat dekat dengan kondisi lapangan, pemerintah punya kewenangan dan sumber daya. Ketika bekerja bersama, kemampuan bangsa menghadapi bencana meningkat. Koordinasi lintas kementerian dan BUMN dalam gempa NTT menunjukkan bahwa Indonesia bekerja melalui ekosistem, bukan satu institusi.

Dari Bantuan Darurat Menuju Ketahanan

Respons cepat hanyalah awal. Setelah darurat usai, pekerjaan panjang dimulai: membangun kembali rumah, memulihkan fasilitas umum, mengembalikan anak ke sekolah, menghidupkan ekonomi, dan mengurangi risiko bencana berikutnya. Pembangunan Indonesia harus beriringan dengan penguatan ketahanan bencana. Infrastruktur harus kokoh dan memperhitungkan risiko; pertumbuhan ekonomi harus meningkatkan keamanan dan kualitas hidup; digitalisasi harus memperkuat sistem peringatan dini. Membangun Indonesia berarti membangun kemampuan menghadapi krisis.

Bencana juga mengajarkan arti persatuan. Gempa tidak mengenal pilihan politik, banjir tidak membedakan latar belakang sosial. Saat bencana datang, kita menjadi satu: warga Indonesia. Perbedaan adalah kenyataan, tetapi persatuan adalah pilihan. Kita boleh berbeda pandangan, namun ketika ada yang membutuhkan pertolongan, perbedaan tidak boleh menghalangi kerja sama. Negara hadir, masyarakat bergerak, dunia usaha membantu, relawan bekerja semua bertemu dalam satu tujuan: menyelamatkan manusia.

Kemerdekaan yang Terasa

Menjelang 81 tahun kemerdekaan, kita akan kembali mengibarkan Merah Putih. Tetapi bagi korban bencana, makna kemerdekaan lebih sederhana: merasa aman, mendapat pertolongan, anak-anak bisa sekolah, ekonomi pulih, dan negara tidak meninggalkan mereka. Negara dinilai bukan dari gedung tinggi atau pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kemampuannya melindungi yang paling rentan. Respons cepat terhadap gempa NTT menunjukkan kapasitas itu, meski tidak semua selesai dengan bantuan. Langkah cepat, koordinasi, dan mobilisasi sumber daya membuktikan bahwa kehadiran negara penting bagi ketahanan masyarakat.

Mungkin sudah waktunya memahami nasionalisme dengan lebih sederhana. Nasionalisme tidak harus berisik; ia tidak butuh pidato panjang. Relawan yang membantu korban adalah nasionalis, petugas yang bekerja semalaman adalah nasionalis, tenaga kesehatan yang tetap melayani adalah nasionalis, masyarakat yang menyumbang adalah nasionalis. Pemerintah yang memastikan negara bergerak cepat saat rakyat butuh juga menjalankan nasionalisme paling konkret. Nasionalisme adalah hubungan antara manusia dengan manusia, dan antara negara dengan rakyatnya. Ketika satu bagian Indonesia terluka, yang lain tidak boleh berpaling. Bencana, meski membawa duka, mengingatkan kita pada fondasi bangsa: persatuan, gotong royong, dan kehadiran negara. Menjelang usia 81 tahun, itulah nasionalisme yang relevan untuk dirawat bukan sekadar bangga menjadi Indonesia, tetapi memastikan Indonesia hadir dan saling menjaga saat salah satu dari kita menghadapi badai. Bangsa yang kuat bukan yang tidak pernah diterpa bencana, melainkan yang mampu bergerak bersama ketika bencana datang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags