Gempa NTT Tewaskan Lima Orang, BNPB Ingatkan Tsunami 1992

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 10:37 WIB
Gempa NTT Tewaskan Lima Orang, BNPB Ingatkan Tsunami 1992

Korban tewas akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi lima orang. Gubernur NTT, Melki Laka Lena, mengonfirmasi bahwa dua korban berada di Maumere, Kabupaten Sikka, dan tiga lainnya di Kabupaten Manggarai. Diduga kuat mereka tewas tertimpa reruntuhan bangunan.

"Berdasarkan informasi yang saya terima saat ini, jumlah korban meninggal sudah lima orang," kata Melki, Sabtu (15/8). Ia menambahkan, timnya masih terus mendata dan memverifikasi penyebab pasti kematian para korban. "Tetapi, kami akan pastikan lagi penyebabnya karena apa," ujarnya.

Melki berencana berangkat ke Flores pada siang hari untuk meninjau langsung kondisi di lapangan. "Siang nanti kami akan berangkat ke Flores dan sore nanti kami sampaikan update-nya lagi, mulai dari korban jiwa serta kerusakan," sambungnya.

Gempa ini mengingatkan pada bencana serupa yang pernah melanda NTT pada 12 Desember 1992. Saat itu, gempa berkekuatan 7,8 magnitudo yang berpusat di Laut Flores memicu tsunami dahsyat setinggi hingga 25 meter di sejumlah titik. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyebut peristiwa itu sebagai salah satu catatan gempa paling mengerikan di Indonesia.

"Pada 12 Desember 1992 gempa bumi berkekuatan 7,8 Magnitudo yang berpusat di Laut Flores pernah terjadi dan memicu gelombang tsunami dahsyat setinggi hingga 25 meter di beberapa titik," kata Suharyanto saat dihubungi, Sabtu (15/8).

Dampaknya saat itu sangat luas. Wilayah pesisir utara Flores, termasuk Kota Maumere dan Kabupaten Sikka, hancur parah. Pulau Babi yang berada di sekitar pusat gempa juga tidak luput dari amukan tsunami.

"Begitu juga dengan Pulau Babi yang berada di sekitarnya," ujar Suharyanto.

Bencana 1992 itu menelan 2.500 korban jiwa dan melukai 2.103 orang. Kerusakan infrastruktur pun masif: ribuan rumah warga di sepanjang pesisir rata dengan tanah, fasilitas umum lumpuh, akses jalan dan jembatan terputus, serta sarana pendidikan, peribadatan, dan kesehatan rusak berat.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.