Parijs van Java: Ketika Bandung Menari dalam Kemewahan Kolonial

- Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:06 WIB
Parijs van Java: Ketika Bandung Menari dalam Kemewahan Kolonial

Pada awal abad ke-20, Bandung bukan sekadar kota sejuk di dataran tinggi Priangan. Ia adalah panggung kemewahan kosmopolitan Eropa yang gemerlap, hingga menyandang julukan legendaris Parijs van Java. Di balik tata kota yang rapi dan udara bersih, sebuah tren modernitas tumbuh menjadi simbol gengsi sosial tertinggi kaum elite kolonial: budaya dansa.

Bagi mereka, berdansa bukan sekadar menggerakkan tubuh mengikuti irama. Ia adalah ritual malam yang sakral, sebuah panggung untuk menegaskan batas kelas, identitas, dan kekuasaan antara penjajah dan tanah jajahan.

Semua bermula dari klub-klub sosial eksklusif, atau Sociëteit, dengan Sociëteit Concordia kini Gedung Merdeka sebagai jantungnya. Sejarawan Budiman (2017) dalam penelitiannya Modernisasi dan Terbentuknya Gaya Hidup Elit Eropa di Bragaweg (1894-1949) menggambarkan betapa padatnya agenda bersenang-senang para anggota klub. Hari Sabtu dimulai dengan konser orkes klasik, dilanjutkan bersosialisasi hingga sore, lalu bersulang minuman keras sebelum lantai dansa dibuka hingga larut malam. Uniknya, pada hari Minggu, aula mewah yang sama disulap menjadi arena bermain sepatu roda untuk melengkapi hiburan mingguan mereka.

Di bawah pendar lampu kristal dan di atas lantai kayu mengilap, aliran musik Waltz, Fox-trot, dan Tango menjadi bahasa tubuh kelas atas Belanda. Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe melukiskan suasana ini sebagai parade gaun malam mewah khas Eropa, jas ekor, wewangian mahal, dan sepatu kulit mengilap sebuah pertunjukan status sosial tertinggi.

Atmosfer glamor ini didukung penuh oleh kawasan Bragaweg melalui toko-toko mode kelas atas yang mendatangkan tren busana langsung dari Paris. Seperti ditegaskan Voskuil dalam Bandoeng: Beeld van een stad, hiburan malam di Bandung sebenarnya adalah cara orang-orang Belanda mereplikasi kemewahan tanah air mereka di ruang kolonial.

Namun, budaya dansa tidaklah statis. Memasuki era 1920-an hingga 1930-an, irama Jazz yang bebas dan dinamis mulai masuk dari Amerika Serikat melalui hotel-hotel mewah seperti Grand Hotel Preanger dan Savoy Homann. Kehadiran Jazz pelan-pelan menggeser kekakuan musik klasik, membuat suasana pesta menjadi lebih ekspresif. Batas sosial yang kaku mulai sedikit melunak, memberi ruang bagi segelintir kaum bumiputera berpendidikan atau golongan bangsawan untuk ikut berbaur.

Dansa pun menjelma menjadi industri urban yang mapan. Sekolah dansa menjamur, dan surat kabar De Preangerbode kerap memuat iklan Dansavond malam dansa romantis. Bandung seolah hidup dua kali: sibuk dengan urusan ekonomi di siang hari, dan menyala oleh gesekan biola serta dentum musik di malam hari.

Kehadiran budaya Barat ini tentu memicu polarisasi di tengah masyarakat lokal. Di satu sisi, para intelektual muda seperti mahasiswa Technische Hoogeschool yang kini menjadi ITB melihat dansa sebagai simbol kemajuan dan keterbukaan budaya. Di sisi lain, kalangan religius dan masyarakat tradisional menolaknya karena dianggap terlalu bebas dan tidak sesuai dengan adat ketimuran.

Sastrawan M. A. Salmun bahkan mencatat bagaimana pemuda Bandung meniru gaya berdansa Barat sebagai bentuk pelarian dari kekangan tradisi mereka sendiri sekaligus menegaskan betapa kuatnya hegemoni budaya kolonial di kota ini.

Setiap pesta pasti usai. Menjelang akhir kekuasaan kolonial Belanda, tepat sebelum kedatangan Jepang pada 1942, budaya dansa di Bandung mencapai titik puncak sekaligus masa paling muramnya. Pesta-pesta di Sociëteit Concordia pada periode ini sering disebut sebagai pesta terakhir yang megah namun diselimuti keputusasaan. Dalam buku Dutch Culture Overseas, Frances Gouda menggambarkan atmosfer dansa pada masa kritis ini sebagai pelarian emosional. Bayang-bayang perang dan tumbangnya kekuasaan sudah di depan mata, membuat orang-orang berdansa dengan liar seolah hari esok tidak akan pernah datang lagi.

Secara retrospektif, sejarah dansa di Bandung adalah cermin pertemuan budaya yang rumit. Di satu sisi memancarkan kemewahan Eropa, namun di sisi lain menyingkap jarak sosial dan politik kolonial yang menganga.

Setelah Indonesia merdeka, budaya dansa Barat sempat meredup akibat sentimen anti-Barat yang kuat. Namun jejaknya tidak pernah benar-benar hilang tertinggal dalam arsitektur gedung pertunjukan, memori keluarga Indo-Belanda, serta nostalgia warga kota. Bandung tidak hanya menjadi tempat berdirinya gedung dansa, melainkan ruang perjumpaan musik, tubuh, dan kekuasaan yang ikut membentuk identitas urban modern di Indonesia.

Hingga hari ini, gema masa lalu itu masih terasa melalui konser, festival musik, hingga ballroom modern di Bandung yang tetap mewarisi atmosfer sebuah kota yang terbiasa merayakan malam.

Julukan Parijs van Java kini tidak lagi merujuk pada dominasi kolonial, melainkan pada keanggunan sebuah kota yang sejak dulu dekat dengan seni, mode, dan lantai dansa. Sejarah ini memberi Bandung karakter sebagai kota yang terbuka terhadap perubahan, memikat dalam estetika, dan selalu memiliki kemampuan mistis untuk mengubah ruang melalui musik.

Pada akhirnya, Bandung dan dansa adalah kisah tentang tubuh, kelas, budaya, dan ingatan. Sebuah warisan kosmopolitan yang lahir di tengah ketidaksetaraan kolonial, namun meninggalkan siluet yang hingga kini tetap terpatri dalam denyut urban kota Priangan ini.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags