Pimpinan Majelis Al-Ihya Bogor: Jangan Biarkan Isu Lain Mengalihkan Perhatian dari Palestina

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Pimpinan Majelis Al-Ihya Bogor: Jangan Biarkan Isu Lain Mengalihkan Perhatian dari Palestina

Pimpinan Majelis Al-Ihya Bogor, KH Chaerul Saleh, mengingatkan umat Islam agar tidak terlena dan melupakan perjuangan rakyat Palestina di tengah sorotan dunia yang kini beralih ke isu internasional lain, seperti konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, gejolak di Palestina masih terus berlangsung dan kejahatan Zionis belum berhenti dengan berbagai cara.

“Dengan adanya perang antara Iran dengan Amerika, Palestina sepertinya agak tenggelam beritanya. Padahal gejolak di Palestina masih tetap berjalan. Kejahatan Zionis belum berhenti dengan berbagai macam cara,” ungkapnya dalam kajian di Majelis Al-Ihya, Kota Bogor, Ahad (9/8/2026).

Ulama yang akrab disapa Babah Chaerul itu menegaskan bahwa perhatian terhadap Palestina dan Masjid Al-Aqsha bukan semata-mata soal solidaritas. Bagi umat Islam, Al-Aqsha memiliki kedudukan penting dalam sejarah dan ajaran Islam. Ia menjelaskan bahwa Masjid Al-Aqsha merupakan tempat suci yang menjadi persinggahan Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra dan Mikraj, sebelum melanjutkan perjalanan hingga Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Allah SWT.

“Untuk menjaga dan peduli terhadap Masjidil Aqsha Palestina, bukan orang Palestina saja. Kita juga harus peduli dengan kekuatan apa? Dengan doa, dengan infak, dengan donasi, dan juga dengan boikot,” ujarnya.

Babah Chaerul secara keras menyoroti melemahnya gerakan boikot terhadap produk-produk yang dikaitkan dengan Israel. Ia mengingatkan bahwa semangat boikot yang sebelumnya begitu kuat kini dinilai mulai luntur. “Boikot yang sampai sekarang sudah lemah. Pantas benar kata orang bahwa umat Islam ini gampang lupa,” katanya.

Ia mencontohkan masih banyaknya masyarakat Muslim yang kembali mengonsumsi berbagai produk dan mendatangi jaringan restoran yang mendukung penjajah Israel. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian umat mulai kehilangan konsistensi dalam menunjukkan solidaritas terhadap Palestina. “Seolah-olah sudah tidak ada cerita boikot,” ujarnya.

Babah Chaerul mengingatkan bahwa penderitaan rakyat Palestina tidak berhenti hanya karena perhatian media beralih kepada isu lain. Rakyat Palestina masih menghadapi berbagai kesulitan, termasuk kekurangan makanan, air, tempat tinggal, serta cuaca ekstrem.

“Saudara kita berjuang mempertahankan tanah suci. Taruhannya adalah nyawa. Lapar setiap hari, haus setiap hari. Musim panas kepanasan, musim dingin kedinginan, kekurangan segala macam,” tuturnya.

Ia juga menyoroti kondisi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat penghancuran rumah-rumah mereka. “Sampai hari ini mereka belum punya rumah. Sebab rumah mereka yang dihancurkan oleh Zionis belum terbangun. Jadi, masih susah,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, ia menyayangkan jika umat Islam justru mulai melupakan Palestina. “Sementara umat Islam sekarang sudah mulai melupakan. Kita tetap istikamah, jangan pernah lupa,” tegasnya.

Babah Chaerul menyerukan agar umat Islam terus memberikan dukungan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ia menegaskan bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki harta dalam jumlah besar. Menurutnya, setiap rupiah yang disisihkan untuk Palestina dapat menjadi bentuk partisipasi dalam perjuangan dan kepedulian terhadap saudara sesama Muslim.

“Berapa pun yang kita bisa sisihkan, kalau ada donasi di mana pun, sisihkan dan bantu. Bukan sekadar membantu, tetapi ikut berpartisipasi,” ujarnya.

Ia menyadari bahwa bantuan individu mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan besarnya kebutuhan rakyat Palestina. Namun, menurutnya, nilai sebuah kepedulian bukan hanya diukur dari jumlahnya, melainkan dari keikhlasan dan kesungguhan untuk tetap bersama mereka.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags