Gaya Hidup Praktis Gen Z Tingkatkan Risiko Gagal Jantung di Masa Depan

- Jumat, 07 Agustus 2026 | 12:20 WIB
Gaya Hidup Praktis Gen Z Tingkatkan Risiko Gagal Jantung di Masa Depan

Gaya hidup serba praktis dan cepat yang kini menjadi ciri khas Generasi Z (Gen Z) menyimpan ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang. Kebiasaan harian yang tampak sepele, seperti merokok, mengonsumsi makanan manis dan cepat saji, serta kurang bergerak, tanpa disadari menumpuk risiko penyakit kardiovaskular. Jika dibiarkan, pola hidup tidak sehat sejak usia muda ini berpotensi memicu komplikasi kronis hingga gagal jantung di kemudian hari.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, melalui edukasi di akun Instagram pribadinya, menyoroti sejumlah kebiasaan buruk anak muda yang dapat memicu masalah jantung dalam satu hingga dua dekade mendatang. Ia memaparkan empat kebiasaan utama yang perlu diwaspadai.

Pertama, merokok. Baik rokok konvensional maupun rokok elektrik (vape) sama-sama berisiko merusak pembuluh darah jantung. "Merokok itu warisan kuno generasi milenial dan di atasnya. Tidak ada manfaatnya, melainkan memicu kecanduan dan merusak pembuluh darah jantung. Ngevape pun bukan berarti lebih aman, karena yang dibutuhkan tubuh hanyalah udara bersih," ujar dr. Bobby, Kamis (6/8/2026).

Kedua, konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan. Kebiasaan ini meningkatkan risiko penyakit metabolik yang menjadi pemicu awal gangguan jantung. "Gen Z yang hobi makan dan minum manis, tiap hari harus ada yang manis-manis. Konsumsi gula yang melebihi batas rekomendasi harian (maksimal 50 gram/hari) membuat kita berisiko terkena diabetes. Diabetes inilah yang meningkatkan risiko sakit jantung di kemudian hari," tuturnya.

Ketiga, konsumsi makanan cepat saji dan makanan olahan tinggi garam. Kebiasaan ini memperparah risiko hipertensi yang berujung pada penyakit jantung. "Makanan cepat saji dan UPF tinggi mengandung garam. Kelebihan konsumsi garam harian (lebih dari 5 gram/hari) meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi yang tidak dikontrol bisa berujung pada sakit jantung," tambah dr. Bobby.

Keempat, kurang aktivitas fisik atau sedentary lifestyle. Minimnya gerak tubuh memicu penumpukan lemak dan obesitas, yang membebani kerja jantung. "Gen Z yang mager dan tidak memiliki waktu khusus untuk olahraga, lingkar perutnya akan bertambah. Lama-lama ini memicu sindrom metabolik. Jantung yang tidak pernah dilatih dengan olahraga kardio rentan terhadap sakit. Makin gemuk seseorang, kerja jantungnya pun makin berat," jelasnya.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut, menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dapat memicu gangguan jantung kronis hingga berakhir pada gagal jantung kondisi stadium akhir dari penyakit jantung. Gagal jantung dapat diawali oleh penyakit arteri koroner akibat penyumbatan pembuluh darah, hipertensi, penyakit ginjal, hingga diabetes melitus.

Penyakit jantung kini menjadi perhatian serius pemerintah. Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, mengungkapkan bahwa penyakit jantung berada di urutan kedua penyebab kematian tertinggi di Indonesia. "Di Indonesia ada tiga penyakit dengan angka kematian tertinggi, yaitu stroke sebanyak 300.000-an, jantung 200.000-an, kemudian kanker. Khusus untuk jantung, gagal jantung adalah salah satu penyebab kematian yang harus kita waspadai," ucap Azhar dalam konferensi pers di RSUP Cipto Mangunkusumo, Rabu (5/8/2026).

Azhar menambahkan, Indonesia saat ini mengalami keterbatasan donor jantung, padahal transplantasi merupakan solusi utama bagi penderita gagal jantung kronis. "Jika terjadi kegagalan kronis, pilihan utamanya adalah transplantasi jantung. Namun, mencari donor dan kesiapan dokternya masih menjadi tantangan besar," ucapnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags