Indonesia berpotensi menambah nilai ekspor garmen hingga USD2 miliar atau setara Rp35 triliun, menurut riset terbaru Vector Consulting Group yang dikembangkan bersama Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI). Temuan ini muncul di tengah stagnasi kinerja ekspor garmen nasional yang berada di kisaran USD8-9 miliar selama hampir satu dekade terakhir.
Sementara Indonesia nyaris tak bergerak, negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja terus memperluas pangsa pasar apparel global. Riset tersebut mengidentifikasi ketidakstabilan dalam eksekusi operasional sebagai salah satu hambatan utama yang menekan kinerja pabrik. Selain itu, ketidakpastian dalam pelepasan fabric purchase orders juga menjadi faktor penting yang memengaruhi daya saing industri secara keseluruhan.
Ketua Umum AGTI Anne Patricia Sutanto menegaskan bahwa industri garmen Indonesia telah memasuki tahap penting dalam perkembangannya. "Peningkatan daya saing membutuhkan fokus yang lebih kuat pada operational excellence. Riset ini memberikan wawasan praktis bagi para pelaku industri mengenai berbagai tantangan operasional yang memengaruhi produktivitas dan kinerja ekspor," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Jumat (7/8/2026).
Senior Partner Vector Consulting Group P Senthilkumar menyoroti bahwa selama ini biaya tenaga kerja selalu menjadi fokus utama dalam pembahasan daya saing industri. Padahal, riset menunjukkan peluang yang lebih besar justru berasal dari peningkatan kualitas eksekusi operasional. "Selama bertahun-tahun, biaya tenaga kerja mendominasi diskusi tentang daya saing. Namun, riset kami menunjukkan bahwa peluang yang lebih besar justru terletak pada peningkatan operational execution," katanya.
Menurut riset tersebut, produsen yang mampu menerapkan praktik operasional yang disiplin berpotensi meningkatkan efisiensi lini jahit (sewing-line efficiency) sebesar 20-30 persen. Mereka juga dapat mencapai tingkat ketepatan pengiriman (On-Time In-Full/OTIF) hingga 90 persen, memangkas customer lead time sebesar 20-30 persen, meningkatkan laba operasional sekitar 20 persen, serta mengurangi modal kerja yang tertahan dalam persediaan sebesar 20-30 persen.
Intervensi yang Direkomendasikan
Sebagai langkah perbaikan, riset merekomendasikan empat intervensi prioritas. Pertama, memperkuat kolaborasi lintas fungsi agar pelepasan fabric purchase orders lebih tepat waktu. Kedua, menerapkan style-level capacity planning. Ketiga, meningkatkan pengawasan supervisor di lini produksi. Keempat, merekonfigurasi rantai pasok bahan baku kain agar lebih responsif.
Country Head Indonesia Vector Consulting Group Rajesh Inamdar menjelaskan bahwa riset disusun berdasarkan kondisi operasional yang dihadapi pelaku industri tekstil dan garmen di Indonesia setiap hari, mulai dari perencanaan produksi hingga proses pengiriman. "Laporan ini tidak hanya mengidentifikasi masalah-masalah tersebut, tetapi juga menawarkan pendekatan praktis yang berfokus pada implementasi, yang dapat membantu industri ini memperkuat daya saing globalnya," ujarnya.
Laporan bertajuk 'Unlocking the USD2 Billion Opportunity: How Operational Execution Can Revive Indonesia's Garment Industry' tersebut diluncurkan dalam ajang Indo Garment & Textile (IGT) Expo di Jakarta. Laporan ini menawarkan perspektif baru terhadap daya saing industri garmen Indonesia, dengan menyoroti bahwa fase pertumbuhan industri berikutnya tidak hanya akan ditentukan oleh biaya tenaga kerja, tetapi juga oleh operational excellence di shop floor.