Presiden Iran Akui Komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Tidak Mudah

- Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:20 WIB
Presiden Iran Akui Komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Tidak Mudah

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei tetap menjadi sumber kekuatan utama negara di tengah situasi politik dan keamanan yang masih bergejolak. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, menandai dua tahun masa jabatannya sebagai presiden.

Dalam wawancara tersebut, Pezeshkian mengakui bahwa komunikasi dengan Khamenei saat ini tidak berjalan mudah. Kondisi keamanan yang belum stabil memaksa pembatasan akses komunikasi dengan pemimpin tertinggi, ujarnya. Meski demikian, dukungan Khamenei dinilai tetap menjadi faktor penting bagi persatuan dan kekuatan Iran.

Pezeshkian menuturkan, semakin terbuka para pejabat menyampaikan persoalan kepada Khamenei, semakin mudah pula tercapai pemahaman bersama dalam pengambilan keputusan penting. Ia juga menggambarkan Khamenei sebagai sosok luar biasa, dengan etika, kerendahan hati, dan cara berpikir yang mengesankan dalam menghadapi berbagai persoalan negara.

Di tengah situasi tersebut, Pezeshkian menuding ada pihak-pihak yang sengaja berupaya memecah belah negeri. Salah satunya adalah isu yang menyebut dirinya berselisih dengan Khamenei terkait nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS), yang ditandatangani secara virtual pada 17 Juni lalu bersama Presiden Donald Trump. Pezeshkian membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa Khamenei secara terbuka mendukung MoU itu, meskipun pada awalnya sempat menyampaikan ketidaksetujuan.

MoU tersebut menandai dimulainya gencatan senjata selama 60 hari sekaligus pencabutan blokade maritim terhadap Iran, sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington. Namun, tekanan terhadap Iran dinilai terus meningkat. Pezeshkian menuduh musuh-musuh Iran memanfaatkan sanksi ekonomi dan konfrontasi militer untuk memicu ketidakpuasan masyarakat serta mendorong aksi demonstrasi.

Karena itu, Pezeshkian menyebut masa kepemimpinannya sebagai periode paling berat sejak Revolusi Islam 1979. Pemerintah harus menghadapi tekanan dari luar negeri sekaligus menjaga stabilitas dan persatuan di dalam negeri, tutupnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags