Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa komunikasi dengan pemimpin tertinggi negaranya, Mojtaba Khamenei, saat ini sangat sulit. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pertemuan produktif dengannya masih mungkin dilakukan.
Mojtaba, yang mengalami luka akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang memicu perang di Timur Tengah, belum muncul di hadapan publik sejak menggantikan mendiang ayahnya yang tewas dalam serangan yang sama.
"Sangat sulit untuk berkomunikasi dengannya saat ini, namun bagaimanapun juga, keberadaannya merupakan sumber kekuatan yang sangat besar bagi kami untuk terus melangkah," kata Pezeshkian dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Kamis (6/8/2026).
Sejak menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret lalu, Mojtaba lebih banyak berkomunikasi melalui pernyataan tertulis. Absennya dari hadapan publik, terutama di tengah perang melawan AS-Israel, telah memicu spekulasi mengenai hubungannya dengan para pejabat tinggi Iran lainnya. Ia juga tidak hadir langsung saat prosesi pemakaman ayahnya digelar secara besar-besaran bulan lalu.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan yang membela pemimpinnya tersebut. Presiden Iran itu menegaskan bahwa dirinya dapat melakukan pertemuan yang produktif dengan Mojtaba dan disambut dengan "kebaikan dan logika yang sangat masuk akal".
"Sayangnya, situasi saat ini memungkinkan pihak-pihak yang berniat buruk untuk menggambarkan sosoknya secara berbeda dan menampilkan citra yang keliru tentang dirinya," ucap Pezeshkian.
Artikel Terkait
Presiden Iran Akui Komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Sangat Sulit
Presiden Iran Tegaskan Pertahanan Wilayah Tanpa Perluas Perang
Presiden Iran Deklarasikan Perang Total Lawan AS, Kesepakatan Damai Runtuh
AS Imbau Warga di Seluruh Dunia Tingkatkan Kewaspadaan Imbas Konflik dengan Iran