Indonesia Resmi Masuk Era Aging Population, BKKBN Ingatkan Ancaman Sandwich Generation

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 16:20 WIB
Indonesia Resmi Masuk Era Aging Population, BKKBN Ingatkan Ancaman Sandwich Generation

Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) telah mencapai 11,97 persen dari total populasi. Perubahan struktur demografi ini dipandang sebagai capaian pembangunan, tetapi juga memunculkan tantangan baru, terutama meningkatnya beban keluarga yang harus merawat anak sekaligus orang tua.

Prof. Budi Setiyono, Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, menyatakan bahwa bertambahnya usia harapan hidup dan membaiknya kualitas kesehatan menjadi penanda positif. Namun, di balik itu, fenomena sandwich generation kelompok usia produktif yang menanggung kebutuhan anak dan orang tua diprediksi akan semakin meluas.

Data SUPAS 2025 juga mencatat laju pertumbuhan penduduk melambat menjadi 1,08 persen per tahun. Total Fertility Rate (TFR) turun menjadi 2,13 anak per perempuan, mendekati tingkat penggantian. Sementara itu, rasio ketergantungan meningkat menjadi 45,05. Prof. Budi menjelaskan bahwa perubahan ini menandakan Indonesia sedang mengalami transisi demografi yang signifikan.

Dampak perubahan tersebut sudah terasa di tingkat keluarga. Berdasarkan Data Pemutakhiran Pendataan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Tahun 2025, sebanyak 25,17 juta keluarga atau sekitar 33,98 persen dari seluruh keluarga yang terdata memiliki setidaknya satu anggota lansia. Artinya, hampir satu dari tiga keluarga di Indonesia kini hidup bersama lansia.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa proses penuaan penduduk bukan lagi sekadar proyeksi masa depan, tetapi telah menjadi realitas yang dihadapi keluarga Indonesia," ujar Prof. Budi dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).

Ancaman Sandwich Generation

Prof. Budi menjelaskan, meningkatnya jumlah lansia berpotensi memperbesar kelompok sandwich generation. Fenomena ini merupakan konsekuensi dari perubahan demografi, perubahan ekonomi keluarga, dan sistem perlindungan sosial yang belum sepenuhnya siap.

Di negara berkembang seperti Indonesia, sebagian besar pekerja masih berada di sektor informal sehingga belum memiliki perlindungan pensiun yang memadai. Akibatnya, kebutuhan hidup pada usia lanjut masih banyak bergantung kepada keluarga. Di sisi lain, budaya Indonesia yang menjunjung tinggi tanggung jawab anak terhadap orang tua membuat beban ekonomi keluarga berpotensi semakin besar.

Risiko Menua Sebelum Kaya

Prof. Budi juga mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi risiko 'growing old before growing rich', yaitu kondisi ketika suatu negara memasuki masyarakat menua sebelum memiliki tingkat kesejahteraan dan sistem perlindungan sosial yang kuat. Jika tidak diantisipasi, penduduk usia produktif akan semakin banyak mengalokasikan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan anak sekaligus orang tua. Dampaknya tidak hanya pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga dapat mengurangi kemampuan menabung, menekan investasi keluarga, meningkatkan tekanan psikologis, dan memengaruhi produktivitas tenaga kerja.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Kemendukbangga/BKKBN tengah mengembangkan Pendataan Keluarga agar mampu memetakan potensi sandwich generation di berbagai wilayah. Melalui kombinasi data mengenai keberadaan lansia, anak yang masih menjadi tanggungan, serta kepala keluarga usia produktif, pemerintah dapat menyusun kebijakan berbasis data sekaligus mengidentifikasi keluarga yang membutuhkan intervensi lebih awal.

Prof. Budi menegaskan bahwa peningkatan jumlah lansia tidak seharusnya dipandang sebagai beban pembangunan, melainkan sebagai bukti meningkatnya kualitas hidup masyarakat Indonesia. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan jaminan hari tua, perluasan layanan kesehatan dan perawatan jangka panjang bagi lansia, peningkatan literasi keuangan, kebijakan ketenagakerjaan yang ramah keluarga, hingga pengembangan konsep active aging agar lansia tetap sehat, mandiri, produktif, dan mampu berkontribusi terhadap perekonomian.

"Melalui program SIDAYA (Lansia Berdaya), Kemendukbangga/BKKBN tidak hanya berusaha menjaga keberlanjutan bonus demografi, tetapi juga membangun masyarakat menua yang sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045," kata Prof. Budi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags