Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa fenomena El Nino yang tengah berlangsung berpotensi meningkat hingga kategori sangat kuat. Kondisi ini diperkirakan akan memicu musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang, dengan puncak dampak dirasakan pada Agustus hingga September.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan terbaru, El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat dengan kecenderungan terus menguat. Hal ini ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah 3.4 yang mencapai indeks ENSO plus 1,59 pada periode Mei-Juni-Juli.
"Jadi berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat. Ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di 3.4 dan kita tidak hanya menggunakan data di dasarian bulan Juli saja, tapi kita menggunakan periode Mei-Juni-Juli untuk menunjukkan bahwa El Ninonya dengan indeks ENSO plus 1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," kata Faisal dalam Dialog Nasional - Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat, di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
BMKG sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini sejak Maret mengenai potensi kemarau yang bertepatan dengan El Nino. Saat itu diproyeksikan Indonesia akan mengalami curah hujan yang lebih sedikit serta musim kemarau yang lebih panjang.
"Kemudian di bulan Maret kita sudah mengingatkan bahwa El Nino akan datang dan nanti akan kedatangan hujan lebih sedikit di Indonesia, lebih kering, dan periodenya lebih panjang kemaraunya. Itu informasi yang awal kita sampaikan di bulan Maret. Kemudian di tanggal 2 Juni, WMO menetapkan El Nino aktif dan kemudian kita memberikan press release kembali dalam menyampaikan informasi tersebut," kata Faisal.
Faisal memaparkan, pada Agustus dan September mendatang, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan rendah hingga sangat rendah. Meskipun pada pertengahan Oktober mulai masuk musim hujan, pengaruh El Nino di Indonesia diprediksi tidak lagi signifikan.
"Di bulan Agustus, September, itu hujan umumnya rendah sampai sangat rendah. Walau di bulan Oktober pertengahan nanti kita mulai masuk musim hujan, maka pengaruh El Nino menjadi tidak signifikan di Indonesia," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda. Meski El Nino dapat berlangsung selama 9 hingga 12 bulan, dampaknya terhadap Indonesia akan berkurang ketika musim hujan mulai tiba.
"Di sini saya sampaikan bahwa El Nino dengan kemarau itu adalah dua fenomena yang berbeda, yang terpisah. Kita tetap akan mengalami musim hujan dan musim kemarau. Sehingga El Nino ini nanti ketika masuk musim hujan, pengaruhnya sudah tidak ada di Indonesia. Dan El Nino sendiri aktif mulai bulan Juni, biasanya 9 sampai 12 bulan hingga kira-kira bulan Mei tahun depan. Tapi bukan berarti kita kemarau sampai bulan Mei ya. Begitu musim hujan terjadi, maka El Nino sudah tidak ada," katanya.
Tidak seluruh wilayah Indonesia akan merasakan dampak El Nino secara merata. Wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa diperkirakan mengalami dampak paling signifikan berupa musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang.
"Dan kita melihat bahwa tidak seluruh wilayah Indonesia terpengaruh langsung oleh El Nino. Yang sangat signifikan dipengaruhi oleh El Nino adalah daerah Indonesia di bawah garis khatulistiwa atau bagian selatan Indonesia. Itulah daerah yang akan mengalami musim kering, musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang periodenya dibanding rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir," katanya.
Faisal mengingatkan bahwa perkembangan El Nino masih berpotensi terus menguat, sehingga seluruh pemangku kepentingan perlu meningkatkan kewaspadaan. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, sektor energi, kesehatan, kelautan, hingga perekonomian masyarakat. Karena itu, koordinasi lintas sektor diperlukan agar langkah mitigasi dapat dilakukan sejak dini.
"Perkembangan El Nino masih berpotensi terus menguat dan dapat mencapai kategori kuat. Dan juga apabila kondisi tersebut terjadi, Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dengan curah hujan yang umumnya rendah sampai sangat rendah seperti yang akan kita alami di bulan Agustus dan September. Sehingga dipandang perlu adanya peringatan dini untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mempercepat langkah antisipasi," ujar dia.
Artikel Terkait
Prabowo Instruksikan Seluruh Sektor Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi El Nino
Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Korban PHK dan Kekeringan El Nino
Gempa Magnitudo 2,8 Guncang Tabalong, Kalimantan Selatan
BMKG: Lima Wilayah DKI Jakarta Waspada DBD Selama Agustus 2026