Mengapa Banyak Pria Inkompeten Jadi Pemimpin? Buku yang Dibaca Anies Baswedan Jelaskan

- Senin, 03 Agustus 2026 | 06:40 WIB
Mengapa Banyak Pria Inkompeten Jadi Pemimpin? Buku yang Dibaca Anies Baswedan Jelaskan

Foto Anies Baswedan tengah membaca buku berjudul Why Do So Many Incompetent Men Become Leaders? (and how to fix it) memicu perbincangan warganet. Buku karya Tomas Chamorro-Premuzic, profesor psikologi bisnis di University College London dan Columbia University, mengupas fenomena banyaknya pria tidak kompeten yang menduduki posisi kepemimpinan.

Dalam buku tersebut, penulis memaparkan tiga bias utama yang membuat masyarakat kerap memilih pemimpin yang salah. Pertama, kecenderungan menyamakan rasa percaya diri dengan kompetensi. Padahal, tidak ada korelasi kuat antara keyakinan diri seseorang dengan kemampuan sebenarnya. Pria, secara kultural, lebih sering menunjukkan kepercayaan diri berlebihan atau hubris.

Kedua, masyarakat sering terjebak oleh karisma. Pemimpin yang pandai berpidato, menghibur, atau piawai membangun citra di media sosial justru sering kali tidak efektif. Sebaliknya, pemimpin yang baik biasanya adalah mereka yang fokus bekerja, disiplin, dan cenderung membosankan.

Ketiga, ada kekaguman berlebihan pada sifat narsistik. Orang dengan ego besar dan visi megah kerap dianggap visioner, padahal narsisme membuat pemimpin minim empati, enggan mengakui kesalahan, dan berani mengambil risiko yang membahayakan organisasi atau negara.

Menurut penulis, sifat-sifat yang justru memikat kita pada calon pemimpin adalah sifat yang sama yang membuat banyak pria inkompeten dipromosikan ke posisi kepemimpinan. Akibatnya, kinerja rata-rata para pemimpin menjadi buruk.

Lantas, bagaimana cara mendapatkan pemimpin yang lebih baik? Tomas menyarankan untuk mencari calon pemimpin yang memiliki kerendahan hati (humility) dan integritas (integrity), bukan mereka yang haus kekuasaan.

Unggahan foto Anies Baswedan yang sedang membaca buku tersebut pun menuai beragam komentar. Sebagian warganet mengaitkannya dengan keresahan terhadap perilaku para pejabat yang dianggap serampangan dalam membuat kebijakan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags