Di balik kecanggihan kecerdasan buatan (AI) Claude yang mampu menulis esai, bertukar pikiran, hingga menyusun kode program, tersembunyi operasi besar-besaran yang menghancurkan jutaan buku fisik. Sampulnya dilepas, jilidnya dipotong dengan mesin hidrolik, dan halaman-halamannya dipisahkan satu per satu untuk dipindai. Dalam hitungan detik, buku yang tadinya utuh berubah menjadi tumpukan kertas tak berbentuk, lalu didaur ulang menjadi bubur kertas.
Selama bertahun-tahun, Anthropic, perusahaan di balik Claude, diam-diam menjalankan proyek pemburuan buku fisik dari seluruh dunia. Buku-buku itu dipindai isinya, lalu bentuk aslinya dimusnahkan. Tujuannya: memberi makan model AI mereka dengan pengetahuan manusia. Proyek ini dinamai Project Panama dan telah berjalan sejak awal 2024 tanpa sepengetahuan publik.
Kegiatan ini baru terbongkar pada Juni 2025 melalui putusan Hakim Federal William Alsup. Hakim menyatakan bahwa pemindaian destruktif atas buku yang dibeli secara sah tergolong fair use (penggunaan wajar). Ia menganalogikan proses pelatihan AI dari buku ini seperti seorang guru yang melatih murid-muridnya menulis dengan baik. Namun, persidangan yang berujung pada putusan itu justru dipicu oleh tuduhan bahwa Claude dilatih dari buku bajakan.
Jauh sebelum Project Panama, Anthropic telah mengunduh jutaan buku secara ilegal dari situs-situs bajakan untuk melatih model awal mereka. Gugatan class action dari para penulis dan penerbit inilah yang membuka tabir praktik akuisisi data Anthropic secara keseluruhan, termasuk keberadaan Project Panama. Proyek ini terungkap lewat berkas pengadilan yang dibuka untuk publik dan kemudian diulas oleh Washington Post dalam laporan berjudul "Inside an AI start-up's plan to scan and dispose of millions of books" pada 27 Januari 2026. Isu ini kembali viral belakangan.
Dari Buku Digital Bajakan ke Penghancuran Buku
Pada Juni 2021, salah satu pendiri Anthropic, Ben Mann, secara pribadi mengunduh koleksi dari "perpustakaan bayangan" bernama LibGen selama 11 hari berturut-turut. Setahun kemudian, pada Juli 2022, Mann kembali membagikan tautan situs Pirate Library Mirror kepada rekan-rekan kerjanya dengan pesan singkat penuh semangat: "Here's the link … just in time!!!"
Anthropic belakangan menyatakan dalam berkas hukum bahwa mereka tidak pernah melatih model AI komersial yang menghasilkan pendapatan menggunakan data dari LibGen, dan tidak pernah memakai Pirate Library Mirror untuk melatih model AI utuh mana pun. Namun, total buku bajakan yang sempat diunduh dan disimpan dari kedua sumber itu mencapai lebih dari tujuh juta judul.
Pada awal 2024, bersamaan dengan dimulainya Project Panama, Anthropic merekrut Tom Turvey, mantan eksekutif yang pernah terlibat dalam proyek digitalisasi Google Books. Turvey ditugaskan memburu buku sebanyak mungkin, dengan target yang konon mencakup semua buku di dunia. Menurut laporan Washington Post, Anthropic awalnya mempertimbangkan membeli buku dari perpustakaan atau toko buku bekas seperti The Strand di New York City. Namun, toko buku itu pada akhirnya tidak pernah menjual buku kepada Anthropic.
Anthropic justru kemudian membeli jutaan buku, sering kali dalam jumlah puluhan ribu eksemplar sekaligus, dari penjual buku bekas seperti Better World Books dan World of Books yang berbasis di Inggris. Jumlah pasti buku yang dipindai beserta total biayanya dirahasiakan dalam dokumen pengadilan. Namun, proposal dari salah satu vendor yang bekerja sama menyebutkan bahwa Anthropic ingin mengonversi 500 ribu hingga 2 juta buku dalam waktu enam bulan. Dalam waktu sekitar satu tahun sejak proyek dimulai, Anthropic dilaporkan telah menggelontorkan dana hingga puluhan juta dolar AS untuk operasi ini.
Vendor yang ditunjuk menawarkan dua jenis layanan: pemindaian non-destruktif, yang menjaga buku tetap utuh dengan menggunakan pemindai overhead atau flatbed, dan pemindaian destruktif, yang membongkar buku sepenuhnya. Anthropic memilih opsi kedua untuk sebagian besar koleksinya.
Mengapa Memilih Menghancurkan Buku?
Anthropic tidak pernah menjelaskan secara resmi alasan memilih metode destruktif. Dokumen internal yang terungkap di pengadilan hanya menggambarkan apa yang mereka lakukan, bukan mengapa. Namun, menurut laporan Ars Technica berjudul 'Anthropic destroyed millions of print books to build its AI models', kecepatan yang lebih tinggi dan biaya yang lebih rendah dari proses destruktif dinilai lebih diutamakan daripada menjaga fisik buku. Melepas jilid dan menyuapkan halaman lepas ke mesin berkecepatan tinggi jauh lebih efisien dibanding memindai buku utuh dengan pemindai overhead yang lebih lambat.
Ada alasan lain yang lebih penting secara hukum. Menghancurkan buku fisik menjadi strategi agar prosesnya tetap sah di mata hukum hak cipta. Prinsip first-sale doctrine di Amerika Serikat mengizinkan pemilik salinan buku yang dibeli secara sah untuk melakukan apa saja dengan salinan itu, termasuk mengubah formatnya. Namun, jika hasil digitalnya disimpan sementara versi cetaknya masih ada, itu berarti Anthropic memegang dua salinan dari satu pembelian, yang berpotensi melanggar hukum. Dengan memusnahkan wujud fisik setelah dipindai, Anthropic secara teknis hanya memegang satu salinan yang sah, yaitu versi digital.
Anthropic bukan satu-satunya perusahaan yang mengejar buku secara agresif. Dokumen yang sama juga membongkar pola serupa di Meta. Keputusan untuk mengunduh koleksi bajakan LibGen guna melatih model Llama 3 disebut baru disetujui setelah proses eskalasi hingga ke tingkat CEO Mark Zuckerberg pada Desember 2023. Bahkan ada karyawan Meta yang sempat mempertanyakan kepatutan tindakan itu melalui pesan internal, sebelum akhirnya proses pengunduhan tetap dijalankan pada April 2024.
Denda Rp 27 Triliun
Meski proses membeli buku bekas, memindai, dan menghancurkannya dianggap legal, Anthropic tetap kena denda. Ini terkait dengan buku-buku digital bajakan yang menjadi modal awal kecerdasan Claude. Pengadilan menarik garis tegas antara dua hal: melatih AI menggunakan buku memang tergolong wajar, tetapi menyimpan salinan bajakan itu sendiri, terlepas dari tujuannya, tetap merupakan pelanggaran hak cipta terhadap penulis dan penerbit.
Perbedaan tipis inilah yang membuat Anthropic memilih tidak menghadapi persidangan penuh. Pada Agustus 2025, mereka sepakat membayar 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 27 triliun) kepada para penulis dan penerbit. Nilainya memang fantastis, tetapi jika dibagi rata ke jutaan judul buku yang terdampak, kompensasi yang diterima setiap penulis dan penerbit diperkirakan hanya sekitar 3.000 dolar AS (sekitar Rp 54 juta) per judul.
Artikel Terkait
Ribuan Pakar AI Desak Pemerintah AS Perlambat Pengembangan Teknologi
AS Tuduh Perusahaan AI China Tiru Model Anthropic, Ancam Sanksi
Google Cloud Klaim Kuasai 9 dari 10 Laboratorium AI Global
AS Cabut Pembatasan Ekspor Dua Model AI Canggih Milik Anthropic