Agustus 2026 Dipenuhi Fenomena Langit, Gerhana Matahari Total Tak Terlihat dari Indonesia

- Jumat, 31 Juli 2026 | 16:00 WIB
Agustus 2026 Dipenuhi Fenomena Langit, Gerhana Matahari Total Tak Terlihat dari Indonesia

Sepanjang Agustus 2026, langit akan menyuguhkan sejumlah fenomena astronomi yang sayang untuk dilewatkan. Mulai dari hujan meteor Perseid, hujan meteor Kappa Cygnid, purnama Sturgeon Moon, hingga gerhana Matahari total yang sayangnya tidak dapat diamati dari Indonesia.

Berdasarkan kalender astronomi In The Sky, sebagian peristiwa tersebut bisa disaksikan langsung dari Indonesia, asalkan cuaca cerah dan lokasi pengamatan minim polusi cahaya.

Fenomena pertama yang patut dinantikan adalah hujan meteor Perseid yang mencapai puncaknya pada Kamis, 13 Agustus 2026, sekitar pukul 09.00 WIB. Karena puncaknya jatuh pada siang hari, masyarakat Indonesia disarankan mengamati langit pada malam sebelum atau sesudah tanggal puncak, terutama setelah tengah malam hingga menjelang fajar.

Berikutnya, hujan meteor Kappa Cygnid diperkirakan memuncak pada Selasa, 18 Agustus 2026, sekitar pukul 21.00 WIB. Meski jumlah meteor yang terlihat umumnya tidak sebanyak Perseid, fenomena ini tetap menarik karena sesekali dapat memunculkan meteor yang sangat terang atau fireball.

Purnama dan Gerhana di Akhir Bulan

Memasuki akhir bulan, Bulan purnama yang dikenal sebagai Sturgeon Moon akan mencapai puncaknya pada Jumat, 28 Agustus 2026, sekitar pukul 14.18 WIB. Karena fase purnama terjadi pada siang hari, masyarakat Indonesia baru dapat menikmati penampakan bulan purnama itu pada malam harinya setelah Matahari terbenam.

Pada hari yang sama, gerhana Matahari total juga akan terjadi dan menjadi salah satu peristiwa astronomi terbesar sepanjang 2026. Jalur totalitas gerhana ini disebut melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, hingga sebagian wilayah Spanyol. Di luar jalur totalitas, gerhana akan terlihat sebagai gerhana sebagian di sejumlah wilayah Eropa dan Afrika bagian barat beserta kawasan sekitarnya.

Adapun Indonesia tidak dapat menyaksikan gerhana tersebut karena saat peristiwa berlangsung, wilayah ini berada di sisi Bumi yang tidak menghadap Matahari.

Bagi masyarakat yang ingin menikmati fenomena langit selama Agustus 2026, waktu pengamatan, kondisi cuaca, dan lokasi yang gelap tanpa polusi cahaya menjadi faktor penting agar penampakan lebih optimal.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags