BGN: 116 Juta Orang Indonesia Alami Kekurangan Kalori dan Protein

- Rabu, 29 Juli 2026 | 17:24 WIB
BGN: 116 Juta Orang Indonesia Alami Kekurangan Kalori dan Protein

Sekitar 40 persen penduduk Indonesia yang masuk kategori miskin dan rentan mengalami kekurangan kalori dan protein. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan data tersebut, yang setara dengan 116 juta jiwa, berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan.

“Ini menyedihkan tapi ini realita yang juga harus kita hadapi bahwa 40 persen itu kira-kira 116 juta. 116 juta orang kita itu kemudian kurang makan, atau kasarannya lapar,” kata Sudaryono dalam acara peresmian Pusat Pelayanan Terpadu dan Media Center BGN di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (29/7).

Ia menjelaskan kondisi ini terjadi ketika asupan makanan yang dikonsumsi lebih sedikit dibandingkan kebutuhan energi untuk beraktivitas. “Yang dimakan lebih sedikit daripada aktivitas dia. Ini satu realita ya,” ujarnya.

Selain kekurangan kalori dan protein, BGN juga memetakan daerah berdasarkan prevalensi stunting. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan 20 kabupaten/kota dengan prevalensi stunting terendah, 182 kategori sedang, 220 kategori tinggi, dan 92 kategori sangat tinggi.

Menurut Sudaryono, pemetaan ini diperlukan agar intervensi gizi dapat diarahkan secara lebih tepat, khususnya ke wilayah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi. “Kita sedang mempersiapkan diri untuk bagaimana kita bisa mengintervensi langsung, memberikan gizi yang pas, yang sesuai, yang dibutuhkan, khususnya di daerah-daerah yang memang angka stunting-nya tinggi dan sangat tinggi,” ujarnya.

BGN akan memeriksa keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah dengan angka stunting tinggi. Jika dapur sudah tersedia, BGN akan mendorong aktivasi; wilayah yang belum memiliki dapur akan menjadi fokus penataan.

Sudaryono juga menjelaskan BGN menggunakan data berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk mengetahui kondisi penerima manfaat. Data tersebut dapat disandingkan dengan data kesehatan dari Kementerian Kesehatan. “Jadi kita bisa tahu anak sekolah SD, SMP, SMA, balita, ibu hamil ini ada di mana, kondisi kesehatannya seperti apa, dapat MBG apa tidak,” ujarnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags