Kekeringan melanda Gunungkidul, Yogyakarta, memaksa warga perbukitan Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, untuk menempuh perjalanan berat demi mendapatkan air. Mereka memanfaatkan mata air thuk Kali Wonosari sebagai sumber utama kehidupan saat kemarau.
Mata air tersebut bukanlah sumber yang jernih. Meski keruh, warga sekitar tetap menggantungkan hidup padanya ketika kekeringan datang. Setiap musim kemarau, lokasi itu ramai didatangi warga yang membawa jeriken atau galon bekas air mineral untuk diisi dan dibawa pulang.
Aktivitas ini dikenal dengan sebutan ngangsu banyu. Di dekat mata air, terdapat dua bilik mandi dari semen tanpa atap. Warga harus menimba air untuk mandi di sana. Meski airnya keruh, mereka menganggap mata air Kali Wonosari sebagai oasis di tengah kekeringan.
Warga rela antre demi mendapatkan air. Ada yang memodifikasi sepeda motornya untuk mengangkut jeriken, sementara yang lain menggendong galon menggunakan jarik atau kain batik panjang. Wiwin (30), salah seorang warga yang mengambil air di lokasi itu, menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari di tengah krisis air ini.
Artikel Terkait
Kemarau, Puluhan Rumah di Sawangan Krisis Air Bersih
Hadapi Musim Kemarau, Pemprov Jabar Siapkan Langkah Antisipasi Kekeringan
BMKG: El Nino Masuk Kategori Kuat, Antisipasi Kekeringan dan Karhutla Diperlukan
Hadapi Musim Kemarau, Kementan Siapkan 100 Ribu Pompa Air