Nilai tukar rupiah kembali merosot ke level Rp 18.100 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Rabu (29/7). Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.05 WIB, mata uang Garuda melemah 17 poin atau 0,09 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi setelah pengumuman mengejutkan mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada Senin lalu. Pasar merespons dengan kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan moneter ke depan.
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang tinggi. Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi prasyarat utama bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Rabu (29/7).
Untuk mencapai target tersebut, BI mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan. "Berbagai instrumen, termasuk triple intervention di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing," katanya.
BI juga memastikan strategi pengelolaan likuiditas pasar uang dan perbankan akan terus diperkuat. Salah satunya melalui pengelolaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) agar tetap sejalan dengan kebutuhan likuiditas dan menarik aliran modal asing.
Artikel Terkait
IHSG Terus Merosot Enam Hari Beruntun, Dekati Level 6.000
IHSG Anjlok 1,5 Persen, Tensi Geopolitik dan Rapat The Fed Jadi Pemicu
KPK Buka Peluang Panggil Eks Gubernur BI Perry Warjiyo sebagai Saksi Kasus Dana CSR
Pemerintah Optimistis Destry Damayanti Jaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Transisi Kepemimpinan BI