Harga minyak dunia kembali menguat pada awal perdagangan Rabu (29/7) setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya. Kenaikan dipicu oleh menyusutnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat, yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap kondisi pasokan global.
Kontrak berjangka Brent naik 3,2 persen menjadi 86,80 dolar AS per barel pada pukul 00.02 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 3,4 persen ke level 81,95 dolar AS per barel.
Sentimen positif juga datang dari data American Petroleum Institute (API). Berdasarkan sumber pasar yang mengutip laporan API, persediaan minyak mentah AS menyusut sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli. Di sisi lain, persediaan bensin justru bertambah 918.000 barel, dan persediaan produk sulingan naik 355.000 barel.
Pelaku pasar kini menantikan data resmi persediaan energi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat.
Selain itu, harga minyak turut ditopang oleh spekulasi bahwa OPEC akan menghentikan rencana peningkatan produksi selama tiga bulan mulai Oktober. Kebijakan tersebut diperkirakan diambil setelah kelompok produsen minyak itu menuntaskan proses pengembalian produksi yang sebelumnya dipangkas secara sukarela.
Pergerakan harga minyak belakangan masih sangat fluktuatif seiring memanasnya konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Perang tersebut mengganggu arus pasokan minyak mentah dunia, terutama akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi global.
Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (28/7), harga minyak sempat merosot sekitar 5 persen hingga menyentuh level terendah dalam dua pekan. Penurunan itu dipicu optimisme pasar terhadap peluang dimulainya kembali upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik AS dan Iran setelah jeda pertempuran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa telah terjadi "pembicaraan yang baik" dengan Iran setelah menghentikan kampanye pengeboman AS selama dua pekan pada akhir pekan lalu. Meski begitu, Trump juga mengancam akan kembali melancarkan serangan apabila proses negosiasi tidak membuahkan hasil. Sementara itu, Iran membantah tengah berupaya melanjutkan perundingan dengan AS.
Di tengah upaya meredakan ketegangan, seorang sumber dari kawasan Teluk dan seorang diplomat Barat menyebut Oman telah mengajukan proposal kepada Iran untuk mengelola lalu lintas di Selat Hormuz. Rencana tersebut mencakup penerapan pungutan sukarela bagi kapal yang melintasi jalur pelayaran tersebut. Usulan yang didukung sejumlah negara Teluk itu diharapkan menjadi landasan untuk mengakhiri gangguan terhadap perdagangan melalui Selat Hormuz yang selama ini dipicu oleh konflik di kawasan tersebut.
Artikel Terkait
Iran Ancam Blokir Kapal Asing di Selat Hormuz Balas Pernyataan Trump
AS Akan Gunakan Aset Iran yang Dibekukan untuk Bayar Kerugian Perang di Selat Hormuz
Wall Street Beragam, Investor Fokus pada Laporan Keuangan Raksasa Teknologi
Kapal Tanker Meledak di Selat Hormuz Usai Hantam Ranjau Laut