Joe Kent, mantan kepala badan anti-terorisme nasional Amerika Serikat yang mundur tahun ini, mengungkapkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump mengabaikan penilaian intelijen soal Iran. Menurutnya, seluruh komunitas intelijen AS, termasuk CIA, sepakat bahwa Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.
Kent juga mengulangi pandangannya bahwa Israel menyeret AS ke dalam konflik tak berujung yang tidak berkaitan dengan kepentingan Amerika. Badan intelijen, kata dia, telah memperingatkan bahwa Iran akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah dan memblokade Selat Hormuz jika diserang lebih dulu, termasuk oleh Israel.
"Narasi dan agenda yang diputarbalikkan oleh pemerintah asing, Israel, memenangkan argumen dan memaksa kita masuk dalam perang ini," ujar Kent, mantan perwira CIA.
Ia menambahkan, Trump menjadi korban kampanye disinformasi Israel yang menggambarkan Iran sebagai ancaman. Menurutnya, kebohongan serupa digunakan Israel untuk menyeret AS ke dalam Perang Irak pada 2003.
Namun, Trump menolak tuduhan itu. Ia bersikeras Israel tidak pernah membujuknya untuk berperang melawan Iran. "Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Trump dalam satu kesempatan.
AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, memicu serangan balasan Teheran ke pangkalan-pangkalan AS di delapan negara Arab. Iran juga memblokade Selat Hormuz, mengganggu pasokan energi global dan mendorong harga minyak dunia ke rekor baru sejak pandemi Covid-19.
Artikel Terkait
Warga Israel Diduga Terlibat Kolaborasi dengan Merek Indonesia Tuai Kecaman
Ancam Deportasi Warga Israel, Malaysia Dipanggil AS
Anwar Ibrahim Tak Gentar Hadapi Tekanan AS soal Larangan Warga Israel Masuk Malaysia
AS Panggil Dubes Malaysia untuk Klarifikasi Sikap soal Israel