Muhammadiyah Bedakan Tahlil dan Tahlilan, Ini Penjelasannya

- Kamis, 23 Juli 2026 | 18:40 WIB
Muhammadiyah Bedakan Tahlil dan Tahlilan, Ini Penjelasannya

Muhammadiyah menegaskan tidak pernah melarang umat Islam membaca kalimat tahlil "Laa Ilaha Illallah". Sebaliknya, organisasi ini justru menganjurkan untuk memperbanyak zikir tersebut sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 152 dan QS. al-Ahzab ayat 41.

Perintah berzikir dengan lafal jalalah itu pun banyak disebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda, "Maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka terhadap orang yang mengucapkan 'Laa Ilaha Illa Allah', yang dengan lafal tersebut ia mencari keridhaan Allah." Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dari 'Itban ibn Malik.

Memperbanyak tahlil termasuk amal ibadah yang sangat baik, bahkan dijamin masuk surga dan haram masuk neraka. Namun, syaratnya tidak sekadar mengucapkan atau melafalkan, melainkan harus menghadirkan hati dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika masih berbuat syirik dan tidak beramal saleh, membaca tahlil ribuan kali pun tidak ada manfaatnya.

Yang menjadi persoalan, menurut Muhammadiyah, adalah praktik tahlilan yang dikaitkan dengan peringatan kematian. Dalam Fatwa Tarjih yang dimuat Majalah Suara Muhammadiyah No. 11 tahun 2003, disebutkan bahwa tahlilan yang dilarang adalah upacara yang dikaitkan dengan tujuh hari, empat puluh hari, atau seratus hari kematian, sebagaimana dilakukan pemeluk agama Hindu. Apalagi jika harus mengeluarkan biaya besar hingga meminjam kepada tetangga atau saudara, sehingga terkesan tabzir atau mubazir.

Larangan serupa sudah ada sejak masa Rasulullah SAW. Dikisahkan, beberapa Muslim yang berasal dari Yahudi, seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, meminta izin kepada Nabi untuk memperingati dan beribadah pada hari Sabtu seperti kebiasaan mereka semasa Yahudi. Namun, Nabi tidak mengizinkan, dan kemudian turun QS. Al Baqarah ayat 208.

Fatwa Tarjih menyimpulkan bahwa situasi Islami adalah situasi yang sesuai dengan syariat Islam dan bersih dari segala larangan Allah, termasuk syirik, takhayul, bid'ah, dan khurafat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags