Pemerintah Amerika Serikat bersiap memberlakukan tarif impor baru yang menargetkan 60 mitra dagang dalam waktu dekat. Langkah ini muncul setelah tarif global sebesar 10 persen yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Februari akan berakhir akhir pekan ini.
Wakil Dagang AS Jamieson Greer mengungkapkan bahwa tarif baru tersebut berkaitan dengan dugaan kegagalan penindakan praktik kerja paksa di negara-negara mitra. "Kami memperkirakan ada tindakan segera," kata Greer dalam sebuah wawancara, tanpa menyebutkan jangka waktu spesifik.
Trump sebelumnya memberlakukan bea masuk global 10 persen pada Februari, setelah sejumlah tarifnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS di bulan yang sama. Kini, para analis memperkirakan tarif baru terkait kerja paksa berkisar antara 10 hingga 12,5 persen akan menggantikan tarif global yang hampir habis masa berlakunya.
Langkah ini menegaskan kembali strategi Trump yang kerap menggunakan tarif sebagai alat tawar-menawar dalam hubungan dagang. Sebelumnya, AS telah mengumumkan tarif 50 persen untuk sebagian barang dari Kanada dan bea masuk 25 persen untuk mayoritas produk Brasil.
Artikel Terkait
Trump Dorong Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB
Trump Ancam Serang Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran dalam Waktu Dekat
Trump Jamin Netanyahu Tak Akan Ditangkap di AS
Piala Dunia 2026: Antara Keajaiban Sepak Bola dan Politik Amerika