Jembatan Piano di Serang Rusak Parah, Pemprov Banten Bangun yang Baru

- Selasa, 21 Juli 2026 | 17:30 WIB
Jembatan Piano di Serang Rusak Parah, Pemprov Banten Bangun yang Baru

Jembatan kayu di Desa Mekarsari, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, yang dikenal sebagai Jembatan Piano, sudah rusak parah dan kerap memakan korban. Pemerintah Provinsi Banten akhirnya bergerak memperbaiki akses vital tersebut.

Jembatan yang dibangun secara swadaya sekitar 25 tahun lalu itu dinamai Jembatan Piano karena setiap kali kendaraan melintas, balok kayu lantainya mengeluarkan bunyi berisik. Kini, lantai jembatan banyak berlubang, susunan balok kayu tidak rapi, dan jarak antar balok semakin renggang. Kondisi ini membuat kendaraan sering terjatuh atau tersangkut, terutama saat hujan.

"Jembatan yang lama itu sudah banyak memakan korban. Motor ada yang jatuh, kalau mobil seringnya nyangkut. Apalagi pas musim hujan," kata Gulamudin, warga Desa Mekarsari, Selasa (21/7/2026).

Sejak dibangun, jembatan tersebut belum pernah diperbaiki. Rencana perbaikan baru akan terealisasi tahun ini. Gulamudin mengaku warga sempat apatis karena terlalu sering dijanjikan. Namun, kali ini berbeda. Setelah Gubernur Banten Andra Soni menjanjikan perbaikan dan meninjau lokasi, pembangunan segera dimulai.

Gubernur Andra Soni mengatakan jembatan baru merupakan aspirasi masyarakat. Jembatan ini menjadi akses penting bagi warga, namun kondisinya kini rusak berat. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banten tengah membangun jembatan baru yang ditargetkan selesai pada November 2026.

"Kalau jembatan lama lebarnya hanya sekitar 2,5 meter dengan kondisi seadanya dan cuma bisa dilalui satu mobil, jembatan baru ini dirancang dengan lebar 5 meter dan bentangan hingga 60 meter sehingga bisa dilalui dua mobil," ujarnya.

Andra menambahkan, pembangunan jembatan diharapkan meningkatkan aktivitas ekonomi serta membuka aksesibilitas masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan pertanian. Menurutnya, pembangunan infrastruktur merupakan upaya berkelanjutan untuk membangun harapan.

"Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa memberikan harapan untuk anak-anak kita di masa depan," katanya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags