Kekalahan Argentina dari Spanyol Picu Kritik atas Permainan Keras dan Kericuhan

- Senin, 20 Juli 2026 | 17:30 WIB
Kekalahan Argentina dari Spanyol Picu Kritik atas Permainan Keras dan Kericuhan

Kekalahan Argentina dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026 tidak hanya mengakhiri status mereka sebagai juara bertahan, tetapi juga memicu kritik tajam terhadap permainan keras yang diperlihatkan sepanjang laga. Sejak menit awal, tim asuhan Lionel Scaloni dinilai lebih sibuk memutus ritme lawan lewat pelanggaran ketimbang membangun serangan.

Mantan kapten Inggris Alan Shearer menilai Spanyol layak menjadi juara. Menurutnya, La Roja tampil dominan sejak awal hingga akhir. "Tidak ada keraguan tim yang tepat memenangkan pertandingan. Sejak awal hingga akhir, Spanyol menguasai penguasaan bola. Mereka adalah tim yang benar-benar ingin bermain sepak bola, menciptakan peluang, dan menembus pertahanan lawan," kata Shearer kepada BBC One. Ia menambahkan, "Ini adalah kemenangan untuk sepak bola karena cara mereka bermain. Spanyol pantas mendapatkannya."

Statistik pertandingan memperlihatkan dominasi Spanyol. Mereka menguasai 65 persen penguasaan bola, mencatatkan 852 operan, dan melepaskan 20 tembakan dengan 11 mengarah ke gawang. Sebaliknya, Argentina hanya mampu mencatatkan 464 operan dan gagal melepaskan satu pun tembakan sepanjang waktu normal. Upaya pertama Albiceleste baru hadir pada menit ke-117 melalui Lionel Messi.

Di sisi lain, permainan Argentina lebih banyak diwarnai pelanggaran. Leandro Paredes menjadi salah satu pemain yang paling sering menghentikan serangan Spanyol melalui duel keras, sementara Enzo Fernandez tampil agresif hingga akhirnya menerima kartu kuning kedua akibat tekel terlambat terhadap Pau Cubarsi pada penghujung pertandingan. Meski empat pemain Argentina mendapat kartu kuning, banyak pengamat menilai hukuman yang diterima masih tergolong ringan dibanding intensitas pelanggaran yang terjadi.

Kericuhan berlanjut setelah peluit panjang dibunyikan. Paredes terlibat adu mulut dengan Rodri, Gavi, dan Borja Iglesias, sedangkan Nahuel Molina terlihat melepaskan pukulan ke arah seorang pemain Spanyol yang melintas. Insiden tersebut langsung menuai kecaman dari sejumlah mantan pemain.

Legenda Manchester United, Wayne Rooney, menyebut tindakan para pemain Argentina sebagai sesuatu yang memalukan. "Memalukan melihat hal seperti itu setelah pertandingan selesai. Seseorang baru saja dinobatkan sebagai juara dunia. Itu sama sekali tidak bisa diterima," ujar Rooney. Ia juga secara khusus menyoroti Paredes. "Paredes seharusnya bisa bersikap lebih baik. Tapi dia terus melakukannya tanpa henti."

Nada serupa disampaikan mantan kiper Inggris, Joe Hart. Menurutnya, Argentina tidak memiliki alasan untuk memprotes hasil pertandingan maupun melampiaskan emosi setelah laga usai. "Argentina sama sekali tidak punya alasan untuk mengeluh atas apa yang terjadi. Perilaku mereka menjijikkan," kata Hart.

Meski sempat menyinggung kartu merah Enzo Fernandez sebagai salah satu faktor yang memengaruhi jalannya laga, pelatih Lionel Scaloni akhirnya mengakui keunggulan Spanyol. "Mereka pantas meraih kemenangan, itulah kenyataannya," ujar Scaloni dalam konferensi pers usai pertandingan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags