Biaya masuk ke Jepang akan melonjak drastis mulai awal bulan depan. Pemerintah Jepang mengumumkan kenaikan biaya visa hingga lima kali lipat, sebuah kebijakan yang disebut sebagai penyesuaian terhadap kenaikan biaya operasional sistem imigrasi dan fluktuasi nilai tukar.
Mulai 1 Juli mendatang, biaya visa sekali masuk akan naik dari sekitar 3.000 yen menjadi 15.000 yen. Sementara itu, untuk visa kunjungan berulang atau multiple entry, biayanya melonjak dari 6.000 yen menjadi 30.000 yen. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyatakan bahwa perubahan ini telah melalui pertimbangan matang, termasuk dampaknya terhadap jumlah wisatawan.
“Dampak kemungkinannya banyak, tetapi kami sudah mempertimbangkan hal itu ketika melakukan revisi,” ujar Motegi.
Kebijakan ini diambil di tengah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menerapkan pendekatan lebih ketat terhadap imigrasi. Langkah tersebut dipicu oleh kekhawatiran atas lonjakan jumlah wisatawan asing dan peningkatan populasi pendatang, yang pada saat bersamaan turut mendongkrak dukungan terhadap partai oposisi sayap kanan, Sanseito.
Di sisi lain, panggung politik Inggris diguncang oleh pengumuman mengejutkan. Perdana Menteri Sir Keir Starmer menyatakan mundur dari jabatannya setelah berbicara dengan Raja Charles III pada Senin lalu. Ia menegaskan bahwa keputusan ini diambil demi kepentingan terbaik negara, meskipun ia akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemimpin baru Partai Buruh terpilih dalam beberapa pekan ke depan.
Pengunduran diri ini diumumkan di tengah tekanan publik yang semakin besar agar kekuasaan segera dialihkan kepada pemimpin baru yang dinilai mampu memulihkan pamor pemerintah. Saat Starmer berpidato, para pengunjuk rasa di dekat lokasi memainkan lagu kebangsaan Uni Eropa, Ode to Joy karya Beethoven, sebagai bentuk protes simbolis.
Sementara itu, dari Amerika Serikat, Wakil Presiden JD Vance mengklaim adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Vance menyebut bahwa para pejabat AS dan Iran telah mencapai kesepakatan awal di berbagai bidang, termasuk mekanisme untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka serta gencatan senjata antara Israel dan militan Hizbullah yang didukung Iran.
“Kami telah meletakkan fondasinya. Kami belum membangun rumahnya, tetapi kami telah meletakkan fondasi yang sukses untuk mencapai tempat yang baik bagi rakyat Amerika,” ujar Vance setelah pembicaraan di Swiss, Senin (22/06). Ia menambahkan bahwa pembahasan mengenai inspeksi nuklir di Iran dapat dimulai paling cepat pekan ini.
Di arena olahraga, Lionel Messi kembali menorehkan sejarah. Megabintang Argentina itu resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia setelah mencetak dua gol brilian dalam pertandingan melawan Austria. Prestasi ini memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang bersama legenda Jerman, Miroslav Klose.
Namun, perjalanan Messi tidak sepenuhnya mulus. Ia sempat gagal mengeksekusi penalti di awal pertandingan, yang nyaris menggagalkan peluangnya untuk memecahkan rekor tersebut. “Ada saat-saat ketika saya benar-benar marah karena gagal mengeksekusi penalti, tetapi saya mampu menebusnya,” kata Messi.
Gol pertama Messi lahir dari umpan silang pada menit ke-38, sementara gol kedua ia cetak di akhir pertandingan. Kemenangan 2-0 atas Austria memastikan Argentina, sebagai juara bertahan, mengamankan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia.
Artikel Terkait
Polisi Malaysia Selidiki Anggotanya yang Diduga Hina Warga China ‘Bau’ di Video Viral
Insinyur Chip Kini Jadi Primadona Baru di Pasar Kerja dan Perjodohan Korea Selatan
Pemerintah Belum Pastikan Lokasi Upacara HUT ke-81 RI di Jakarta dan IKN
Rubio Tolak Rencana Iran Tarik Biaya Tol Kapal di Selat Hormuz