Shin Tae-yong Ungkap Cara Kelola Tekanan di Persija: Persiapan Matang hingga Evaluasi Kritik Suporter

- Minggu, 21 Juni 2026 | 03:40 WIB
Shin Tae-yong Ungkap Cara Kelola Tekanan di Persija: Persiapan Matang hingga Evaluasi Kritik Suporter

Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, mengaku sudah lama akrab dengan tekanan yang menyertai profesinya. Namun, ia memiliki cara tersendiri untuk mengelola beban tersebut agar tidak mengganggu performa tim.

Sejak mengambil alih kendali Macan Kemayoran, Shin menyadari besarnya ekspektasi yang datang dari klub dan pendukung setia. Meski demikian, ia meyakini bahwa persiapan yang matang adalah kunci utama untuk menghadapi situasi penuh tuntutan itu.

Menurut pelatih asal Korea Selatan itu, kemampuan mengelola tekanan harus dimiliki setiap pelatih sebelum pertandingan berlangsung. Dengan perencanaan yang maksimal, kata dia, beban yang dirasakan dapat ditekan seminimal mungkin.

“Posisi ini bukanlah tempat yang tanpa tekanan, melainkan tempat yang menerima tekanan kuat. Dengan memikirkan hal itu dan melakukan persiapan jauh-jauh hari, kami bisa menghindari banyak tekanan,” ujar Shin dalam pernyataan yang dikutip pada Minggu (21/6/2026).

Pelatih berusia 57 tahun itu mengaku memiliki metode khusus dalam mempersiapkan tim. Ia biasanya bekerja keras menyusun strategi hingga dua hari sebelum laga dimulai.

“Jadi, jika ada pertandingan, saya melakukan persiapan yang luar biasa sampai dua hari sebelum pertandingan. Mulai satu hari sebelum pertandingan, saya mencoba melupakan beban itu dan bersiap agar bisa menghadapi pertandingan dengan nyaman. Itulah cara saya sendiri untuk melepas stres,” tutur pria kelahiran Yeongdeok tersebut.

Di sisi lain, Shin juga menyadari bahwa hubungan antara pelatih dan suporter tidak selalu berjalan mulus. Ia memahami bahwa kritik adalah konsekuensi yang tak terhindarkan ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.

Bagi mantan pelatih Timnas Indonesia itu, mental yang kuat menjadi modal penting dalam menghadapi komentar dari luar. Shin memilih menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kekurangan.

“Pertama-tama kita tidak bisa selalu mendengar hal yang baik saja. Fans mungkin memuji saya, tapi kalau kami kalah, mereka bisa saja memaki. Tapi saya punya mental untuk menerima hal itu dengan tenang,” ujar Shin.

Eks pelatih Timnas Korea Selatan itu menilai kritik dari suporter justru dapat menjadi pengingat bagi seorang pelatih untuk terus berkembang. Ia berusaha melihat masukan tersebut sebagai bagian dari proses memperbaiki diri.

“Jika saya berpikir, ‘Ah, para fans bicara begitu karena ada masalah pada diri saya,’ maka daripada merasa stres, saya mengubah pikiran saya menjadi ajang evaluasi diri. Ternyata itu lebih baik,” tandasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar