Keluarga Blasius Avelino Kebingin (25), mahasiswa asal Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, terpukul setelah jenazah almarhum tidak ikut tiba di Bandara Gewayantana, Larantuka, Flores Timur, saat penerbangan dari Jakarta. Dua pendamping jenazah, Sandro Kebingin dan sepupunya Jansen Kebingin, sudah tiba lebih dulu, tetapi peti jenazah justru tertinggal di Bandara El Tari, Kupang.
Blasius meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) di rumah kosnya di Jakarta. Ia diketahui tengah menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi di ibu kota. Jenazahnya rencananya akan diterbangkan ke Larantuka untuk dimakamkan di kampung halaman.
Menurut Jansen, sejak berangkat dari Jakarta, ia dan Sandro telah melaporkan keberadaan jenazah kepada petugas maskapai Lion Air. Saat transit di Kupang, mereka kembali melapor dan diminta menunggu di ruang tunggu. Petugas menjamin proses pemindahan jenazah akan dilakukan otomatis oleh pihak maskapai.
"Kami sudah melapor kalau membawa jenazah," ujar Jansen. "Petugas bilang nanti jenazah mereka yang urus untuk dipindahkan ke pesawat tujuan Larantuka, jadi kami diminta langsung ke ruang tunggu."
Jansen mengaku beberapa kali menanyakan proses pemindahan jenazah, baik saat transit di Surabaya maupun di Kupang. Namun, jawaban petugas selalu sama: pemindahan akan dilakukan secara otomatis. "Waktu transit di Surabaya saya tanya, di Kupang saya tanya lagi, jawabannya sama, jadi saya tidak usah ke cargo," lanjutnya.
Kepercayaan itu kandas ketika pesawat mendarat di Larantuka. Jansen dan Sandro langsung menuju bagian kargo untuk mengambil jenazah, tetapi peti jenazah tidak ada. Mereka pun menghubungi pihak maskapai dan mendapat penjelasan bahwa terjadi perubahan penanganan jenazah saat transit di Kupang. Maskapai mengira jenazah akan diberangkatkan pada Selasa (4/8/2026), padahal tiket sudah diterbitkan untuk penerbangan Jakarta-Larantuka.
"Kami benar-benar kaget. Kami langsung mau ambil jenazah, ternyata tidak ada," kata Jansen. "Terus terang sakit sekali, karena saya benar-benar menjaga adik saya sejak dari Jakarta. Kenapa bisa begini, sementara mereka juga mengakui ada kesalahan."
Akibat kejadian ini, keluarga harus menunggu kedatangan jenazah tanpa kepastian. Beberapa anggota keluarga yang sudah menyeberang ke Larantuka sejak siang hari pun harus bersabar. Pihak maskapai telah mengakui adanya kesalahan dan berupaya menyelesaikan persoalan agar jenazah segera dipulangkan.
Artikel Terkait
Jenazah Mahasiswa NTT Tertinggal di Bandara El Tari Kupang, Maskapai Sebut Miskomunikasi
Jenazah Mahasiswa Tertinggal di Bandara El Tari, Lion Group Buka Suara