Dokter Ingatkan Konsumsi Obat dan Herbal Sembarangan Bisa Rusak Ginjal

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Dokter Ingatkan Konsumsi Obat dan Herbal Sembarangan Bisa Rusak Ginjal

Kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri, jamu, herbal, hingga suplemen vitamin tanpa memperhatikan dosis dapat berdampak buruk bagi kesehatan ginjal. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Hamidah, mengingatkan bahwa berbagai produk tersebut berpotensi memicu kerusakan ginjal apabila digunakan secara berlebihan atau tanpa pengawasan dokter.

Hal itu disampaikan dr Hamidah dalam podcast bersama Dokter Spesialis Andrologi sekaligus influencer kesehatan, dr Jefry Tribowo. Menurut dia, masih banyak masyarakat yang menganggap obat bebas maupun produk herbal aman dikonsumsi kapan saja, padahal ginjal menjadi organ yang paling bekerja keras untuk menyaring dan membuang sisa zat dari dalam tubuh.

"Kebiasaan nomor empat mungkin dari obat, herbal, atau mungkin jamu-jamuan. Kalau dikonsumsi secara sembarangan tanpa anjuran dokter, tanpa pengawasan dokter," kata dr. Hamidah, dikutip Sabtu (1/8/2026).

Dia menjelaskan, ginjal berfungsi menyaring zat sisa metabolisme dan membuangnya melalui urine. Ketika tubuh menerima obat atau zat tertentu dalam dosis tinggi maupun jangka panjang, organ tersebut dapat mengalami peradangan hingga penurunan fungsi.

Menurut dr Hamidah, beberapa jenis obat yang sering dikonsumsi masyarakat tanpa resep memiliki potensi menyebabkan gangguan ginjal jika digunakan terus-menerus. Di antaranya obat golongan pereda nyeri, obat lambung, beberapa jenis antibiotik, serta obat untuk penyakit jantung dan pembuluh darah.

"Jadi ada beberapa obat yang kalau misalnya dikonsumsi berlebihan, dosisnya tinggi, terus-menerus tanpa pengawasan, itu bisa merusak ginjal. Tapi nggak semua kondisi tiba-tiba dalam satu pasien merusak ginjal. Misalnya seperti obat golongan anti nyeri, obat lambung paling sering kemudian obat beberapa jenis antibiotik, atau mungkin ada golongan obat-obat jantung dan pembuluh darah," ujarnya.

Dia juga mengingatkan bahaya interaksi antarobat (drug interaction). Menurutnya, obat yang sebenarnya aman dapat menjadi berisiko apabila dikombinasikan dengan obat lain tanpa petunjuk tenaga medis.

"Atau mungkin dari obat tersebut sebenarnya aman nih tapi karena dikombinasi dengan obat lain, itu dapat meningkatkan toksisitas pada ginjal," katanya.

Meski begitu, dr. Hamidah menegaskan masyarakat tidak perlu takut mengonsumsi obat selama penggunaannya sesuai anjuran dokter. Pada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes dan asam urat, obat tetap diperlukan dengan penyesuaian dosis berdasarkan kondisi fungsi ginjal dan kadar kreatinin.

"Banyak kok obat-obatan yang ternyata aman buat ginjal atau ada juga obat-obat yang mungkin perlu perhatian kalau misalnya fungsi ginjalnya menurun atau kreatinin darah, kreatinin darahnya meningkat sekian-sekian. Itu udah dibuat tabel. Kayak obat asam urat ternyata dia tuh aman, tapi ternyata kalau dosis sekian dengan kreatinin sekian, asam urat sekian, wah itu udah mulai perhatian gitu," ujarnya.

Selain obat-obatan, dr Hamidah juga meluruskan anggapan bahwa jamu, herbal, dan vitamin selalu aman karena berasal dari bahan alami. Menurut dia, produk herbal dengan kandungan yang tidak jelas maupun dikonsumsi secara berlebihan tetap dapat membahayakan ginjal.

"Sama mungkin yang sering miskonsepsi itu kan tentang jamu dan vitamin ya. Jamu juga sama kan tuh dia herbal juga ada pengeluarannya kan dari kencing juga ya. Kalau kita yang herbal-herbal apalagi yang nggak jelas kandungannya, terlalu tinggi segala macam, kita harus waspada juga karena ingat ginjal kita kan bertugas untuk mengeluarkan urin. Nah, kalau kita nggak memperhatikan apa yang kita makan, hati-hati," katanya.

Dia mencontohkan, konsumsi vitamin D dalam dosis yang sangat tinggi, misalnya mencapai 50.000 IU per hari tanpa indikasi medis, dapat memicu nefrotoksisitas atau keracunan ginjal.

"Sama halnya dengan vitamin ya, kadang kemarin tuh ada juga berita katanya konsumsi vitamin D bisa sakit ginjal, ternyata di cek vitamin D-nya 50.000 IU sehari. Itu kan di atas dari nilai normal banget ya, nah itu kan udah sembarangan. Makanya vitamin-vitamin pun sebetulnya aman, cuman ya diperhatikan dosisnya, segala sesuatu kalau berlebihan juga enggak bagus," ujarnya.

dr Hamidah mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi obat, jamu, herbal, maupun suplemen secara sembarangan. Jika memiliki penyakit tertentu atau harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang, konsultasi dengan dokter diperlukan agar dosis dan jenis obat disesuaikan dengan kondisi ginjal sehingga risiko kerusakan organ dapat dicegah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags