Anak Muda Soroti Limbah Baterai Mobil Listrik dalam Simulasi Sidang PBB

- Jumat, 31 Juli 2026 | 19:50 WIB
Anak Muda Soroti Limbah Baterai Mobil Listrik dalam Simulasi Sidang PBB

Perbincangan mengenai kendaraan listrik selama ini lebih sering berputar pada teknologi, efisiensi energi, dan upaya menekan emisi karbon. Namun, di kalangan generasi muda, perhatian mulai merambah ke persoalan lain yang tak kalah krusial: limbah baterai lithium yang berpotensi menjadi bom waktu lingkungan di masa depan.

Fenomena itu mencuat dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diikuti sekitar 200 pelajar dan mahasiswa dari 35 sekolah serta perguruan tinggi dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Pekanbaru Chapter. Alih-alih hanya membahas manfaat kendaraan listrik, para peserta justru diminta mengupas sisi lain dari transisi energi, termasuk bagaimana dunia harus mengelola limbah baterai seiring meningkatnya penggunaan mobil listrik.

Dalam forum United Nations Environment Programme (UNEP), peserta mewakili berbagai negara untuk menyusun solusi atas persoalan bertajuk Electric Vehicles and Lithium Waste: A Double-edged Sword. Mereka bernegosiasi, menyampaikan pandangan sesuai kepentingan negara yang diwakili, hingga menyusun rancangan resolusi sebagaimana mekanisme sidang di PBB.

President International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, mengatakan tantangan yang diberikan kepada peserta bukan sekadar mempertahankan argumen, melainkan mampu melihat suatu persoalan secara lebih menyeluruh.

"Seluruh peserta tidak hanya ditantang untuk mempertahankan argumen negara yang mereka wakili, tetapi juga untuk melihat setiap isu melalui tiga lensa utama: kekuatan, keadilan, dan waktu," kata Fahrizal dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).

"Dari ketiga perspektif tersebut, para peserta diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang relevan dan berdampak. Tugas ini jauh lebih menantang daripada sekadar memenangkan debat ini adalah proses nyata untuk membangun dunia yang lebih baik," tambahnya.

Pembahasan mengenai limbah baterai lithium menjadi menarik karena isu tersebut diperkirakan akan semakin mengemuka seiring percepatan penggunaan kendaraan listrik di berbagai negara. Di satu sisi, elektrifikasi transportasi dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi gas rumah kaca. Namun di sisi lain, meningkatnya jumlah baterai yang memasuki masa akhir pakai menuntut sistem daur ulang dan pengelolaan limbah yang aman agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Selain membahas isu lingkungan, peserta juga mendiskusikan pemerataan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas melalui forum UNESCO. Kedua isu itu dipilih karena dinilai merepresentasikan tantangan global yang membutuhkan kolaborasi lintas negara.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Syafrian Tommy, menilai forum seperti ini penting untuk membentuk cara berpikir generasi muda terhadap persoalan dunia yang semakin kompleks. Menurutnya, diplomasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di forum internasional, tetapi juga bagaimana membangun empati, memahami perbedaan sudut pandang, dan mencari solusi yang dapat diterima berbagai pihak.

"Pemuda bukan sekadar penerus masa depan, tetapi aktor utama yang membentuk inovasi dan arah kebijakan. Diplomasi global bukan hanya tentang kemampuan berbicara, melainkan juga tentang membangun empati dan memahami keberagaman budaya," ujar Syafrian.

"Dan keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga memastikan setiap orang memiliki akses yang setara terhadap pendidikan," tambahnya.

Meningkatnya perhatian pelajar terhadap isu seperti limbah baterai kendaraan listrik menunjukkan bahwa pembahasan mengenai transisi energi tidak lagi didominasi kalangan akademisi, industri, maupun pemerintah. Generasi muda pun mulai ikut mempertanyakan bagaimana teknologi ramah lingkungan dapat dikembangkan tanpa memunculkan persoalan lingkungan baru di masa depan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags