FIFA resmi menghentikan rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Keputusan ini diambil setelah proposal yang diperkirakan bernilai USD 4,2 miliar atau sekitar Rp75,6 triliun itu memicu penolakan luas dari berbagai konfederasi, federasi anggota, hingga pejabat internal FIFA.
Presiden FIFA Gianni Infantino mengumumkan pembatalan tersebut setelah mendengar masukan dari para pemangku kepentingan sepak bola internasional. Menurutnya, proyek yang semula disiapkan sebagai sumber pendanaan baru untuk program pengembangan sepak bola dunia justru menciptakan perpecahan yang bertentangan dengan misi organisasi.
"Setelah mendengarkan dengan saksama seluruh pandangan yang ada, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, terlepas dari seberapa besar dukungan yang ada, tidak lagi sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai," kata Infantino.
Ia menegaskan bahwa FIFA tetap berpegang pada tujuan utamanya, yakni menyatukan dan mengembangkan sepak bola di seluruh dunia. "Tujuan kami selalu sama, yakni mempersatukan dan memajukan sepak bola. Karena itu, proposal ini tidak akan diteruskan," ujarnya.
Infantino juga memastikan FIFA akan kembali menggelar pembahasan bersama seluruh pihak terkait dalam beberapa pekan mendatang. Fokus utama organisasi kini diarahkan pada upaya mencari skema baru untuk memperkuat pengembangan sepak bola, terutama di negara-negara yang membutuhkan dukungan lebih besar.
Proposal FIFA Forward Enterprise
Sebelum dibatalkan, FIFA berencana membentuk perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola seluruh aset komersial turnamen FIFA. Hak komersial tersebut meliputi hak siar, sponsor, lisensi, hingga penjualan tiket Piala Dunia yang selama ini menjadi sumber pemasukan terbesar organisasi.
Melalui perusahaan baru itu, FIFA berencana melepas sekitar 20 persen saham kepada investor eksternal guna menghimpun dana USD 4,2 miliar. Dengan skema tersebut, valuasi FIFA Forward Enterprise diperkirakan mencapai USD 20 miliar atau sekitar Rp360 triliun.
Salah satu investor yang disebut terlibat dalam proyek tersebut adalah Thrive Capital, perusahaan investasi yang dipimpin Joshua Kushner. Nama perusahaan itu turut menjadi sorotan karena Joshua Kushner merupakan adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
FIFA sebelumnya menjelaskan bahwa dana hasil investasi akan digunakan untuk meningkatkan anggaran pengembangan sepak bola global hingga lebih dari USD 10 miliar dalam siklus empat tahunan.
Gelombang Penolakan dari Konfederasi
Meski menawarkan tambahan dana besar, proposal tersebut mendapat penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola. UEFA menjadi salah satu pihak pertama yang secara terbuka menyatakan keberatan. Bahkan, konfederasi sepak bola Eropa itu dikabarkan sempat mengancam memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila rencana tersebut tetap dijalankan.
Penolakan kemudian diikuti Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) serta Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF). Sementara itu, CONMEBOL memilih meminta penjelasan lebih rinci mengenai mekanisme proposal sekaligus mengingatkan FIFA agar setiap keputusan bisnis tidak mengorbankan nilai-nilai utama sepak bola.
Tekanan terhadap FIFA semakin meningkat ketika muncul informasi bahwa Infantino menawarkan pendanaan sebesar USD 40 juta kepada setiap asosiasi anggota yang mendukung proposal tersebut mulai Januari 2027. Nilai itu meningkat dua kali lipat dibanding tawaran awal sebesar USD 20 juta.
Kritik Datang dari Internal FIFA
Tidak hanya menghadapi penolakan dari luar organisasi, Infantino juga menerima kritik dari jajaran internal FIFA. Penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, memilih mengundurkan diri setelah menyebut proposal tersebut sebagai "kesepakatan yang buruk" bagi masa depan sepak bola.
Kritik serupa datang dari Chief Operating Officer (COO) FIFA, Kevin Lamour. Ia menilai proposal tersebut bukan lahir dari kebijakan organisasi, melainkan lebih merupakan "proyek satu orang". Lamour juga menuding proses penyusunan proposal tidak dilakukan secara terbuka kepada jajaran staf FIFA.
Bertambahnya kritik dari dalam organisasi membuat tekanan terhadap Infantino semakin besar hingga akhirnya ia memutuskan menghentikan seluruh proses pembentukan FIFA Forward Enterprise. Dengan pembatalan tersebut, FIFA dipastikan tidak akan menjual sekitar 20 persen kepemilikan perusahaan pengelola hak komersial Piala Dunia yang sebelumnya diproyeksikan bernilai puluhan miliar dolar AS.
Meski demikian, FIFA menegaskan tetap akan mencari alternatif pendanaan lain untuk memperluas investasi dalam pengembangan sepak bola global tanpa mengorbankan persatuan organisasi maupun kepentingan para anggotanya.
Artikel Terkait
FIFA Batalkan Rencana Jual Saham Komersial Piala Dunia
FIFA Batalkan Rencana Jual Saham Piala Dunia Setelah UEFA Ancam Boikot
Enam Pemain Argentina Terancam Sanksi FIFA Jelang Piala Dunia 2030
FIFA Buka Penyelidikan Keributan Final Piala Dunia, Sejumlah Pemain Argentina dan Spanyol Terancam Sanksi