Puluhan jemaat Gereja POUK Chapel Universitas Sumatera Utara (USU) histeris setelah seluruh barang di dalam gereja diduga dikosongkan secara paksa oleh pihak kampus. Peristiwa ini terjadi saat sejumlah pengurus gereja tengah mendampingi pendeta mereka dalam pemeriksaan polisi.
Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Deddy Mauritz Simanjuntak, mengungkapkan bahwa pengosongan paksa itu dilakukan oleh sekitar sepuluh truk yang datang dari USU. Saat itu, ia dan Pendeta Gloria Bale sedang menjalani pemeriksaan di Polda Sumatera Utara terkait laporan pencemaran nama baik yang diajukan terhadap sang pendeta.
"Jadi pada hari ini, kami melakukan pendampingan terhadap Ibu Pendeta Gloria Bale. Beliau dilaporkan ke Polda Sumatera Utara untuk LP yang ke-2 kalinya, dengan tuduhan pencemaran nama baik, sesuatu yang dia sendiri bingung, pencemaran nama baik apa yang dia lakukan. Nah, pada saat kami kurang lebih pukul setengah 11, mendampingi Ibu Pendeta Gloria Bale, si penyidik masih buka laptop, tiba-tiba kita dapat informasi dari teman kita di sini bahwa ada 10 truk dari Universitas Sumatera Utara yang melakukan pengosongan gereja," ujar Deddy saat diwawancarai di Gereja POUK Chapel USU, Senin (10/8).
Mendengar kabar tersebut, Deddy dan timnya memutuskan untuk menghentikan pemeriksaan dan meminta izin kepada penyidik agar dapat kembali ke gereja. Namun, saat tiba, mereka mendapati gereja dalam kondisi porak-poranda. Seluruh barang, termasuk barang-barang pribadi, telah dipindahkan secara paksa.
"Sempat ketemu (dengan pihak yang mengosongkan), tapi kita sudah lihat bahwa gereja itu berada dalam kondisi yang porak-poranda. Semua barang-barang, termasuk barang-barang pribadi yang harusnya, itu tidak bisa diambil dengan paksa karena ada undang-undang yang melindungi hal tersebut. Itu dilakukan oleh mereka yang mengatasnamakan Universitas Sumatera Utara," ucapnya.
Tanggapan USU
Menanggapi dugaan pengosongan paksa tersebut, USU buka suara. Pihak kampus menyebut langkah itu sebagai bagian dari relokasi sementara Chapel USU dalam rangka penataan dan renovasi fasilitas rumah ibadah. Tujuannya, untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas sarana pembinaan kerohanian bagi sivitas akademika dan warga Kristen di lingkungan USU.
Ketua Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) USU, Robert Sibarani, menjelaskan bahwa Chapel selama ini memiliki fungsi penting sebagai sarana pembinaan kerohanian mahasiswa, dosen, pegawai, serta warga Kristen di lingkungan USU. Seiring bertambahnya jumlah mahasiswa Kristen, kebutuhan akan fasilitas yang lebih memadai pun meningkat.
"Chapel selama ini difungsikan sebagai sarana pembinaan kerohanian bagi mahasiswa, dosen, pegawai, dan warga Kristen di lingkungan USU. Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen, kebutuhan terhadap fasilitas pembinaan kerohanian yang lebih memadai juga semakin besar," ujar Robert melalui keterangan tertulis, Selasa (11/8/2026).
Saat ini, jumlah mahasiswa Kristen di USU diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 orang yang tersebar di 16 fakultas. Menurut Robert, renovasi menjadi bagian dari upaya menyediakan fasilitas yang lebih representatif dan mampu memenuhi kebutuhan pembinaan kerohanian di lingkungan kampus.
"Dengan jumlah mahasiswa Kristen yang terus bertambah, kapasitas Chapel saat ini tentu perlu ditingkatkan. Karena itu, renovasi merupakan bagian dari upaya menyediakan fasilitas yang lebih representatif dan mampu memenuhi kebutuhan pembinaan kerohanian di lingkungan USU," katanya.
Artikel Terkait
Curhat Mahasiswa Penjual Mochi, Mentan Amran Beri Modal hingga Beasiswa