Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan menuntut kompensasi konflik dari Iran sebagai bagian dari setiap negosiasi perdamaian. Tuntutan itu mencakup kerugian akibat serangan dan pembunuhan selama beberapa dekade yang diduga didukung atau dilakukan Teheran.
Pernyataan Trump muncul di tengah kebuntuan negosiasi untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Tuntutan baru ini berpotensi mempersulit tercapainya kesepakatan cepat, terutama karena Iran sebelumnya mensyaratkan pembayaran ganti rugi perang oleh AS sebagai prasyarat penyelesaian permusuhan.
"Saya juga menuntut kompensasi dari Iran," ujar Trump. Ia menambahkan bahwa tuntutannya tidak hanya mencakup kerugian akibat konflik saat ini, tetapi juga serangan Iran terhadap target-target AS selama lebih dari dua dekade terakhir, serta pembayaran kepada keluarga pengunjuk rasa Iran yang tewas di tangan aparat dalam 50 tahun terakhir.
Dalam unggahan berikutnya, Trump juga menyatakan bahwa Republik Islam tersebut harus bertanggung jawab atas kematian dan kerusakan yang ditimbulkannya di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza.
Sikap Trump ini menunjukkan pola yang kerap berulang. Pekan lalu, ia sempat mengancam akan menyerang Iran "dengan sangat keras" yang berpotensi menyasar infrastruktur sipil namun kemudian menarik kembali ancaman tersebut sembari mengisyaratkan bahwa kesepakatan damai sudah dekat.
Akhir pekan lalu, Trump mengatakan bahwa ia mengambil pendekatan yang "lebih tenang" terhadap konflik ini. Hal itu mengindikasikan kesiapannya untuk membiarkan tekanan ekonomi meningkat alih-alih melancarkan serangan militer lebih lanjut.
Media digital Axios melaporkan bahwa dalam wawancara yang diterbitkan hari Minggu, Presiden AS tersebut tidak menunjukkan rasa frustrasi atas sikap Iran yang menunda kesepakatan pembukaan Selat Hormuz. Teheran menuntut agar AS terlebih dahulu mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mencabut sanksi terhadap industri minyaknya.
Di tengah macetnya negosiasi, pemblokiran selat tersebut oleh Iran telah memicu lonjakan harga bahan bakar dan mengguncang ekonomi global. Hal ini memberikan tekanan pada Trump menjelang pemilihan umum paruh waktu pada bulan November.
Dalam unggahannya, Trump menyinggung peristiwa pengeboman kapal USS Cole pada tahun 2000, sebuah insiden yang sebelumnya ia sebut melibatkan Iran. Pada hari Senin, ia menegaskan bahwa berbagai tuntutan kompensasi tersebut akan dimasukkan secara tegas ke dalam setiap negosiasi di masa mendatang dengan Iran.
Artikel Terkait
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Selat Hormuz Kembali Menekan Pasar
Ancaman Iran, Trump Diam-diam Pindah Pesawat di Turki
Trump Diam-diam Tinggalkan Turki dengan Penerbangan Rahasia
Trump Diam-diam Ganti Pesawat Saat Tinggalkan KTT NATO karena Ancaman Iran