Panas Ekstrem di Afrika Mulai Mengalahkan Unta, Hewan Gurun yang Tangguh

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:25 WIB
Panas Ekstrem di Afrika Mulai Mengalahkan Unta, Hewan Gurun yang Tangguh

Unta selama ini dikenal sebagai hewan yang mampu bertahan di tengah gurun yang ganas. Namun, panas ekstrem yang semakin sering melanda Afrika dalam beberapa tahun terakhir membuat hewan tangguh ini mulai kewalahan. Di Wilayah Afar, timur laut Etiopia, yang merupakan salah satu tempat terpanas dan terkering di Bumi, para penggembala nomaden yang biasa memimpin rombongan unta mengangkut garam melintasi gurun kini menghadapi kenyataan pahit.

"Dalam sebulan terakhir saya kehilangan delapan anak unta karena panas ekstrem. Kondisinya menjadi jauh lebih intens dan sulit," kata Ali Umer, penggembala unta dari Semera di Afar, kepada BBC. Pria berusia 40 tahun yang memiliki sekitar 500 ekor unta ini menambahkan, "Bahkan angin yang dulu membawa udara sejuk kini membawa panas. Saya bisa melihat unta-unta saya menderita akibat panas ekstrem. Kaki mereka melepuh, mata mereka berair, dan pasir yang panas membakar kulit mereka serta merusak bulu mereka saat mereka duduk."

Keluhan Umer bukanlah kasus terisolasi. Para ilmuwan, pekerja kesejahteraan hewan, dan berbagai studi menyebut stres, kelelahan, dehidrasi, serta meningkatnya penyakit sebagai dampak langsung panas ekstrem. Suhu yang lebih tinggi juga membuat unta menderita secara tidak langsung karena berkurangnya air, vegetasi, serta area teduh.

Populasi unta di Afrika terancam

Kawasan Afrika Utara dan Tanduk Afrika menampung sekitar 80% populasi unta dromedaris terbesar di dunia. Selama bertahun-tahun, para petani dan penggembala sapi di wilayah-wilayah ini beralih ke unta karena dianggap tahan terhadap panas dan kekeringan. Namun, sebuah studi berdasarkan persepsi para penggembala unta di Etiopia selatan yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan bahwa suhu tinggi dan variabilitas iklim telah merugikan kesehatan unta. "Para responden melaporkan bahwa perubahan iklim dan variabilitas iklim telah mempengaruhi kesehatan, produktivitas, dan kinerja reproduksi unta," demikian isi studi tersebut.

Di Somalia, situasinya tampak lebih serius. Penelitian yang diterbitkan pada Juni menunjukkan bahwa kematian unta terkait kekeringan merupakan krisis yang meluas, mempengaruhi hampir 46% keluarga pemilik unta. Studi yang mencakup hampir 6.000 keluarga ini menunjukkan kematian terkonsentrasi di wilayah utara, terutama di Sool, yang mencatat "tingkat kematian yang mengejutkan, hampir 73%".

Para ahli mengatakan panas ekstrem merupakan penyebab utama di balik kekeringan di kawasan tersebut. Adapun faktor lain, seperti layanan kedokteran hewan yang tidak memadai dan pengelolaan hewan yang kurang baik, memperburuk keadaan. Analisis oleh para ilmuwan atmosfer menemukan bahwa suhu tinggi di kawasan tersebut menjadi penyebab kekeringan pada 2021-2022, karena panas ekstrem membuat air dari tanah dan danau/sungai berubah menjadi uap dan tanaman melepaskan air ke udara dalam bentuk uap.

Dokter hewan melihat peningkatan kasus

Para dokter hewan mengatakan mereka merawat lebih banyak unta yang sakit dan menyaksikan lebih banyak kematian akibat panas ekstrem dan kekeringan. "Kami melihat peningkatan signifikan kasus hipertermia pada unta yang menyebabkan mereka mengalami berbagai infeksi," kata Hassan Nuya Guyo, dokter hewan di Marsabit, area di timur laut Kenya yang berbatasan dengan Etiopia, kepada BBC. "Dalam dua tahun terakhir, kami telah melihat peningkatan lebih dari 15% kematian unta di wilayah kami akibat panas ekstrem."

Menurut studi lain yang dilakukan di Tanduk Afrika, peningkatan penyakit pada unta dan penurunan produksi susu merupakan dampak perubahan iklim, termasuk stres akibat panas. Kisah serupa juga terjadi di Afrika Utara. Sebuah studi di Aljazair yang diterbitkan tahun ini menunjukkan peningkatan jumlah kematian unta secara signifikan selama gelombang panas pada musim kemarau. "Analisis deret waktu menyoroti pola kematian musiman yang signifikan, menegaskan perlunya intervensi yang ditargetkan selama periode berisiko tinggi yaitu ketika puncak bulan-bulan musim panas; semisal penyediaan air strategis, pakan tambahan, dan peningkatan pemantauan penyakit," demikian isi studi tersebut.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan peristiwa panas ekstrem telah menjadi fenomena umum di beberapa negara Afrika Utara. Gelombang panas menunjukkan tren peningkatan sejak 1981. WMO juga melaporkan sejumlah negara di kawasan tersebut dan Timur Tengah mencatat suhu di atas 50 derajat Celsius pada 2024. Laporan State of the Climate in Africa 2025 dari WMO menyebutkan bahwa Afrika Utara mencatat pemanasan tercepat di antara enam subwilayah, yaitu 0,43 derajat Celsius per dekade, antara 1991 dan 2025.

Batas toleransi unta terhadap panas

Para ahli mengatakan unta dapat menghadapi panas dengan nyaman hingga sekitar 40 derajat Celsius, terutama dengan membiarkan suhu tubuh mereka berfluktuasi beberapa derajat sepanjang hari untuk menyesuaikan diri dengan suhu luar. Dengan cara itu mereka menghindari berkeringat dan dikombinasikan dengan urin yang pekat serta kotoran yang kering membantu meminimalkan kehilangan air. Adapun lapisan kulit dan bulu yang tebal membantu melindungi mereka dari radiasi matahari.

"Namun unta juga dapat mengalami stres ketika suhu meningkat melampaui kisaran kenyamanan mereka," kata Dr Mohammed Bengoumi, ilmuwan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang khusus mengkaji kesehatan unta dan bekerja di Afrika Utara. "Di banyak bagian Sahara, suhu musim panas kini sering melampaui 50 derajat Celsius, meningkatkan risiko stres panas yang parah, terutama ketika disertai berkurangnya tutupan vegetasi, kelangkaan air, dan terbatasnya akses ke tempat teduh," katanya kepada BBC.

Profesor Abdelmadjid Chehma dari Universitas Ghardaia di Aljazair, yang telah melakukan penelitian eksperimental terhadap unta di Gurun Sahara, memiliki kesimpulan serupa. "Penelitian kami menunjukkan bahwa panas berkepanjangan siang dan malam di atas 41 hingga 45 derajat Celsius secara langsung menyerang sel-sel mereka," katanya kepada BBC. "Sistem kekebalan mereka menderita karena tingkat panas seperti itu merusak sel darah putih dan sel-sel lain akibat stres. Sel-sel tersebut kesulitan memperbaiki diri dan akhirnya menghancurkan diri sendiri."

Bagi unta, ketika stres akibat panas terjadi, metabolisme mereka melambat untuk membatasi produksi panas internal, yang menyebabkan penurunan tajam asupan makanan sehingga mengakibatkan lesu dan kelelahan umum. Kondisi itu menyebabkan penurunan produksi susu dan juga menimbulkan gangguan reproduksi. Profesor Mohammed el Khasmi, ahli hidrobiologi hewan di Universitas Casablanca di Maroko, memiliki daftar panjang dampak stres panas pada unta: penurunan berat badan, peradangan, penyakit terkait otot dan tulang, ketidakseimbangan kimia akibat gangguan fungsi ginjal, serta penyakit menular yang disebabkan parasit.

Para ahli mengatakan bahwa meskipun panas ekstrem adalah penyebab utama, dampaknya menjadi lebih parah ketika faktor-faktor lain seperti hilangnya vegetasi dan air, kurangnya area teduh, dan layanan kedokteran hewan yang tidak memadai ikut terjadi. Karena itulah banyak penggembala di Etiopia memindahkan unta mereka dari wilayah utara tempat hewan-hewan itu secara historis ditemukan ke wilayah selatan yang relatif memiliki air dan vegetasi, kata para ahli di sana. "Dan ini bukan perpindahan musiman para penggembala," kata Daniel Gelan, profesor dan peneliti pengembangan peternakan dari Vision University di Etiopia. "Mereka meninggalkan wilayah utara untuk selamanya karena mereka tidak lagi dapat mempertahankan usaha penggembalaan unta di sana akibat panas ekstrem dan kekeringan," katanya kepada BBC.

Tanduk Afrika sedang pulih dari kekeringan terpanjang dan paling parah yang pernah tercatat, yaitu dari 2020 hingga 2023. Kini wilayah itu kembali menghadapi periode kondisi sulit lainnya, menurut organisasi Oxfam. Oxfam mengatakan harga air di beberapa bagian Somalia telah naik lebih dari 2.000% akibat kekeringan. Umer, penggembala ternak di Afar tersebut, mengatakan ia khawatir wabah penyakit dapat mulai membunuh unta-unta dewasanya kapan saja. Kekhawatirannya beralasan, menurut Chehma. "Meskipun unta tetap menjadi garis pertahanan terakhir para penggembala ternak terhadap gurun, intensitas gelombang panas saat ini yang belum pernah terjadi sebelumnya secara langsung mengancam fungsi-fungsi vital mereka, mengubah hewan yang secara historis tangguh ini menjadi korban perubahan iklim," katanya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags