Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memanfaatkan krisis migran di Ceuta, kota otonom Spanyol di Afrika Utara, sebagai alat politik. Ia menyebut situasi tersebut sebagai peringatan bagi AS apabila lawan-lawannya berkuasa.
Trump menggambarkan keadaan di Ceuta sebagai sesuatu yang "mengerikan" dan menyerupai "invasi". Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri rapat kabinet di Camp David, Maryland, pada Jumat (31/7).
"Saya melihat situasi Spanyol kemarin, dan saya menyaksikan bencana yang terjadi di sana," ujarnya. "Itu tampak seperti sebuah invasi ke suatu negara oleh ratusan ribu orang, dan hal yang sama akan terjadi pada kita jika Partai Republik tidak terpilih, bahkan lebih buruk dan dalam skala yang jauh lebih besar."
Trump juga mengaitkan krisis tersebut dengan Pilpres AS. "Itu mengerikan. Ingatlah gambar tersebut. Seperti itulah nasib kita dalam tiga tahun ke depan jika pihak yang salah berkuasa," katanya seperti dikutip media Fox News dan dilansir AFP, Sabtu (1/8/2026).
"Jika Partai Demokrat yang berkuasa, Anda tidak akan memiliki kehidupan yang sangat baik," ucapnya memperingatkan rakyat AS.
Presiden AS itu pun mengingatkan bahwa negaranya berisiko menghadapi krisis serupa di wilayah pesisir. Pernyataan Trump ini muncul di tengah ketegangan politik internal AS menjelang pemilu.
Artikel Terkait
Trump Setujui Serangan Baru ke Iran, Bisa Dimulai Akhir Pekan Ini
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Arab dan Israel jika AS-Israel Lanjutkan Agresi
Lebih dari 48.000 Migran Kembali ke Maroko dari Ceuta
Ribuan Migran Ilegal Menyerbu Ceuta, Kota Otonom Spanyol di Afrika Utara