Pemerintah Malaysia kembali menegaskan sikapnya untuk tidak mengakui Israel, meskipun mendapat tekanan dari Amerika Serikat. Otoritas Kuala Lumpur menyatakan posisi tersebut sudah menjadi kebijakan lama dan tidak akan berubah.
Penegasan itu disampaikan di tengah ketegangan hubungan Malaysia-AS setelah Perdana Menteri Anwar Ibrahim, pada 15 Juli lalu, menyatakan akan mengusir setiap warga negara Israel dari Malaysia. Pernyataan itu memicu kemarahan anggota Kongres AS yang mendesak Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk meninjau ulang hubungan keamanan dan ekonomi dengan Kuala Lumpur, serta menghentikan pendanaan program pelatihan militer untuk personel Malaysia.
Situasi berujung pada pemanggilan Duta Besar Malaysia untuk AS, Shahrul Ikram, oleh Departemen Luar Negeri AS pekan lalu.
Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, mengatakan Dubes Shahrul telah menjelaskan posisi Malaysia saat dipanggil. Hasan menegaskan bahwa kebijakan terhadap Israel bukanlah hal baru, melainkan sikap resmi yang dipertahankan oleh berbagai pemerintahan secara berturut-turut.
"Ini memang sudah menjadi kebijakan Malaysia sejak lama. Kebijakan imigrasi kami tidak mengakui negara Israel ataupun rezim Zionis. Ini sudah sejak lama menjadi posisi kami," tegas Hasan seperti dikutip kantor berita Bernama.
Artikel Terkait
Mantan Kepala Badan Anti-Teror AS Sebut Intelijen Diabaikan demi Perang Iran
Warga Israel Diduga Terlibat Kolaborasi dengan Merek Indonesia Tuai Kecaman
GP Bahrain 2026 Digelar di Malaysia, Ini Alasannya
Profil Aisar Khaled: YouTuber Malaysia yang Minta Maaf Usai Viral Naikkan Kaki ke Kursi Penumpang