Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran tidak mematok tarif bagi kapal mana pun yang melintasi Selat Hormuz. Jaminan itu disampaikan Trump setelah ia menerima informasi terbaru dari pihak Iran. Lewat unggahan di platform Truth Social, Trump menulis bahwa Iran telah memberi tahu AS bahwa tidak ada tol, biaya asuransi, atau pungutan lain yang diminta maupun diterima atas kapal-kapal yang melewati selat strategis tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang telah berlangsung lama soal rencana Iran mengenakan biaya layanan maritim sebagai semacam tol bagi kapal yang melintas. Teheran sebelumnya berulang kali menyatakan niat tersebut, dan langkah itu mendapat tentangan keras dari Amerika Serikat.
Pada Selasa pekan lalu, Iran dan Oman dua negara yang berbagi kendali atas Selat Hormuz mengumumkan akan mempelajari skema biaya yang mungkin dikenakan untuk layanan pengelolaan selat tersebut. Keduanya menegaskan bahwa mereka memegang kedaulatan penuh atas jalur air itu.
Meski Trump memberi jaminan bahwa saat ini tidak ada pungutan, pernyataannya tidak menyebut apakah kebebasan dari tarif itu akan bertahan setelah masa perundingan damai AS-Iran yang berdurasi 60 hari berakhir. Pihak Iran sendiri belum memberikan keterangan resmi terkait pernyataan Trump tersebut.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan tegas menyatakan bahwa Washington tidak akan menerima pungutan apa pun dari Iran atas Selat Hormuz. Dalam kunjungannya ke Uni Emirat Arab, Rubio menegaskan bahwa selat itu adalah jalur air internasional dan tidak ada negara yang berhak memungut tarif di sana. Ia yakin semua negara di kawasan akan sepakat dengan sikap tersebut.
Selat Hormuz selama ini menjadi titik rawan dalam konflik AS-Iran. Ketika Iran memblokade selat tersebut selama perang dengan AS dan Israel, harga minyak global melonjak drastis. Namun, lalu lintas kapal mulai pulih setelah kedua pihak menandatangani kesepakatan damai pendahuluan. Washington dan Teheran telah menyelesaikan putaran pertama perundingan di Swiss, yang membuka masa negosiasi 60 hari untuk membahas pencabutan sanksi, program nuklir Iran, dan masa depan Selat Hormuz.
Iran terus menegaskan akan mempertahankan kendali atas selat yang menjadi jalur pelayaran bagi seperlima pasokan minyak dunia itu. Pemerintah Iran dan Oman, dalam pernyataan bersama, kembali menekankan kedaulatan mereka atas selat tersebut sambil tetap mengkaji kemungkinan pengenaan biaya atas jasa yang diberikan dalam pengelolaan jalur perdagangan itu.
Artikel Terkait
Pelita Jaya Jakarta Kalahkan Bogor Hornbills 74-61, Unggul 2-1 di Final IBL 2026
Indonesia Ekspor Jagung untuk Pertama Kali dalam 53 Tahun, Polri Diklaim Jadi Kunci Swasembada Pangan
KPK Tahan Sementara Penahanan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas karena Sakit
Sarwendah Datangi Komnas Perempuan, Kuasa Hukum Ruben Onsu Pertanyakan Hak yang Diperjuangkan