Korea Utara Nyatakan Status Nuklirnya ‘Tidak Dapat Diubah’, Tolak Seruan Denuklirisasi AS dan Sekutu

- Minggu, 14 Juni 2026 | 12:30 WIB
Korea Utara Nyatakan Status Nuklirnya ‘Tidak Dapat Diubah’, Tolak Seruan Denuklirisasi AS dan Sekutu

Korea Utara secara resmi menyatakan bahwa statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir bersifat “tidak dapat diubah”. Pemerintah Pyongyang menegaskan bahwa status tersebut merupakan kunci untuk menjaga stabilitas kawasan, seraya menolak mentah-mentah seruan Amerika Serikat dan sekutunya yang mendesak dilakukannya denuklirisasi.

Pernyataan tegas ini muncul tidak lama setelah pertemuan trilateral antara Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat yang berlangsung di Tokyo pada Jumat pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara sekutu itu kembali menegaskan komitmen mereka terhadap “denuklirisasi lengkap Semenanjung Korea”, sebagaimana disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Seoul.

“Retorika tak berarti AS dan pasukan bawahannya terhadap Korea Utara tidak akan pernah memengaruhi posisi Korea Utara yang tak dapat diubah sebagai negara pemilik senjata nuklir,” demikian pernyataan seorang juru bicara yang tidak disebutkan namanya, diterbitkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Minggu (14/6/2026).

“Denuklirisasi adalah masalah yang telah diselesaikan secara permanen,” imbuh pernyataan tersebut.

Dalam pernyataan yang sama, juru bicara itu juga menyoroti penjualan sistem persenjataan AS ke Korea Selatan dan Jepang sebagai justifikasi atas pengembangan program nuklir Korea Utara. Pyongyang menyebut langkahnya itu sebagai “jaminan keamanan yang kuat untuk stabilitas dan perdamaian regional”.

“Tidak peduli seberapa keras AS, Jepang, dan Korea Selatan berdebat, mereka tidak akan pernah mengubah posisi Korea Utara saat ini sebagai negara pemilik senjata nuklir,” kata pejabat tersebut, merujuk pada Korea Selatan dengan akronim nama resminya.

Sikap ini mempertegas percepatan program senjata nuklir yang dilakukan Korea Utara sejak pembicaraan dengan Washington gagal pada tahun 2019. Saat itu, pertemuan puncak antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan apa pun.

Dalam kemungkinan merujuk pada kegagalan negosiasi tersebut, juru bicara Korea Utara mengatakan bahwa “tidak ada yang dapat mengembalikan denuklirisasi yang hilang secara permanen dalam tren zaman”.

Sebelumnya, Kim Jong Un baru saja menjamu Presiden China, Xi Jinping, di Pyongyang. Kunjungan itu terjadi setelah pemimpin China tersebut mengadakan serangkaian pertemuan puncak di Beijing dengan Trump dan Putin. Menurut laporan media resmi kedua negara, isu denuklirisasi sama sekali tidak disinggung dalam pertemuan tersebut.

Korea Utara telah berulang kali menegaskan bahwa pihaknya tidak akan pernah meninggalkan persenjataan nuklir. Pyongyang menggambarkan senjata nuklir sebagai alat pencegahan yang vital. Saudara perempuan pemimpin Kim Jong Un, Kim Yo Jong, bahkan menyebut kebijakan itu sebagai “garis tanpa mundur” pada awal bulan ini.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar