Trump Ancam Iran dengan Penghancuran Total Jelang Perundingan Damai

- Minggu, 12 April 2026 | 06:20 WIB
Trump Ancam Iran dengan Penghancuran Total Jelang Perundingan Damai

Ancaman keras kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat terhadap Iran. Kali ini, nada yang digunakan bahkan lebih mengerikan: 'penghancuran total'. Ancaman itu digaungkan menyusul rencana pertemuan perundingan di Islamabad, Pakistan, yang bertujuan mencari jalan damai permanen antara kedua negara.

Pertemuan di Pakistan itu sendiri adalah bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang baru saja berjalan dua minggu. Di sana, kedua pihak diharapkan bisa duduk dan berunding. Namun begitu, atmosfernya sama sekali tidak hangat.

Tak lama setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, berangkat memimpin delegasi ke Islamabad, Trump sudah mengeluarkan peringatan. Isinya gamblang dan penuh keyakinan.

"Kita sedang melakukan pengaturan ulang. Kita sedang mengisi kapal-kapal dengan amunisi terbaik, senjata terbaik yang pernah dibuat, bahkan lebih baik dari yang kita gunakan sebelumnya, dan kita telah menghancurkan mereka,"

Begitu kata Trump dalam wawancaranya dengan New York Post, seperti dilansir Al Arabiya pada Sabtu (11/4/2026).

Dia seolah tak ingin ada keraguan. Militer AS, menurutnya, sudah bersiap dengan senjata paling mutakhir. Persiapan itu bukan untuk pamer, melainkan untuk sebuah kemungkinan buruk: gagalnya meja perundingan.

"Kita sedang mengisi kapal-kapal dengan senjata terbaik yang pernah dibuat, bahkan pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang kita gunakan sebelumnya untuk melakukan penghancuran total,"

Trump menegaskan kembali. Lalu, dia menyempurnakan ancamannya dengan kalimat penutup yang dingin.

"Dan jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan menggunakannya, dan kita akan menggunakannya dengan sangat efektif,"

Jadi, inilah situasinya. Di satu sisi, ada delegasi yang terbang untuk berdiplomasi. Di sisi lain, ancaman perang total justru menggema dari rumah sendiri. Sebuah kontras yang tajam, dan membuat masa depan perundingan ini terasa sangat tidak pasti.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar