Sorotan Parlemen dan PR Berat OJK Pasca Gelombang Pengunduran Diri

- Minggu, 01 Februari 2026 | 09:05 WIB
Sorotan Parlemen dan PR Berat OJK Pasca Gelombang Pengunduran Diri

Gelombang pengunduran diri sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai bentuk tanggung jawab moral, menyisakan pekerjaan rumah yang tidak ringan. Lembaga itu kini berada di bawah sorotan tajam, tak hanya dari publik, tetapi juga dari parlemen.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Dolfie Othniel Frederic Palit, pun angkat bicara. Ia memberikan sejumlah catatan krusial yang harus segera ditindaklanjuti oleh OJK.

"Prioritas yang harus segera dijalankan oleh OJK adalah segera menjalankan kesesuaian standar internasional MSCI sebelum indeksnya diumumkan pada Mei mendatang. Caranya, melalui berbagai langkah struktural,"

Demikian disampaikan Dolfie dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026). Situasinya memang mendesak.

Menurutnya, Komisi XI sudah memberikan penguatan bagi OJK dan PT Bursa Efek Indonesia untuk meregulasi free float. Tujuannya jelas: mengarah pada penguatan big cap dan meningkatkan likuiditas pasar. Langkah ini juga diharapkan bisa mencegah manipulasi harga, sekaligus membangun transparansi dan kepercayaan investor. Poin-poin ini sendiri telah menjadi kesimpulan rapat kerja mereka dengan OJK pada 3 Desember 2025 silam.

"Ke depan, kebijakan Free Float dari 7,5% menjadi minimal 10-15% harus diperhatikan hal-hal berikut; dirancang bertahap, terukur, dan diferensiatif. Selain itu, perlu diiringi penguatan basis investor domestik, didukung insentif dan pengawasan yang efektif,"

lanjut Dolfie. Ia menekankan, kebijakan itu juga harus mampu mencegah risiko manipulasi harga dan meningkatkan transparansi.

Di sisi lain, dinamika pasar modal dalam negeri belakangan ini memang cukup menguras emosi. Pascapengumuman MSCI Inc. tentang pembekuan rebalancing IHSG pada 28 Januari lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok. Koreksinya terasa sakit, sempat anjlok tajam hingga 7-8% hanya dalam satu sesi perdagangan.

Dampaknya langsung terasa. Sentimen investor berubah drastis menjadi sangat berhati-hati.

"Banyak investor asing memilih untuk menunggu dan melakukan penyesuaian portofolio mereka,"

tutup Dolfie menggambarkan kondisi yang serba gamang itu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler