Merz Prediksi Rezim Iran Hanya Bertahan Beberapa Minggu Lagi

- Kamis, 29 Januari 2026 | 10:20 WIB
Merz Prediksi Rezim Iran Hanya Bertahan Beberapa Minggu Lagi

Kanselir Jerman Friedrich Merz tak ragu lagi menyebut rezim Iran sedang di ujung tanduk. Pernyataannya ini muncul bersamaan dengan ancaman militer dari Presiden AS Donald Trump, yang kembali menggema menyusul gelombang penindasan terhadap demonstran di negara tersebut.

Menurut Merz, sebuah pemerintahan yang cuma bertahan dengan cara menebar teror pada rakyatnya sendiri, umurnya tak akan lama lagi.

“Rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan teror terhadap penduduknya sendiri: hari-harinya sudah dihitung,” tegasnya dalam sebuah konferensi pers di Bucharest, berdampingan dengan Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan, Rabu lalu.

“Mungkin hanya beberapa minggu lagi,” sambungnya, “tapi yang jelas, rezim ini sudah kehilangan legitimasi untuk memerintah.”

Statemen keras Merz ini dilaporkan oleh sejumlah kantor berita internasional, Kamis (29/1/2026). Ia tampaknya merujuk pada situasi mengerikan di lapangan. Ribuan orang dikabarkan tewas dalam demonstrasi belakangan ini sebuah bukti nyata, katanya, bahwa para mullah di Tehran cuma bisa berkuasa lewat jalan kekerasan.

Di sisi lain, data dari kelompok pemantau HAM semakin menguatkan gambaran suram itu. Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang berbasis di AS, menyatakan mereka telah memverifikasi lebih dari 6.200 kematian sejak aksi unjuk rasa antipemerintah meledak akhir Desember tahun lalu.

Namun begitu, angka sesungguhnya diduga jauh lebih besar. Pemadaman internet yang masih berlangsung di sana membuat verifikasi jadi sulit, nyaris mustahil. Aktivis di lapangan hanya bisa menduga-duga, sambil terus menerima kabar buruk yang bertambah.

Tak cuma kritik, Merz juga mendorong langkah konkret. Ia mendukung penuh inisiatif Italia yang mendesak Uni Eropa untuk menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran, atau IRGC, sebagai organisasi teroris. Langkah ini, jika terwujud, akan memberi tekanan politik dan ekonomi yang lebih berat pada Tehran.

Suasana memang semakin memanas. Ancaman dari Washington, kecaman dari Berlin, dan deretan angka korban jiwa yang terus membengkak semuanya seolah menandai sebuah babak baru yang kritis untuk Iran.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler