Intelijen AS Soroti Kerentanan Rezim Iran, Trump Timbang Opsi Militer

- Selasa, 27 Januari 2026 | 16:45 WIB
Intelijen AS Soroti Kerentanan Rezim Iran, Trump Timbang Opsi Militer

Menurut laporan New York Times yang dirilis Selasa lalu, Presiden Donald Trump telah menerima sejumlah analisis intelijen AS yang cukup mengejutkan. Intelijen itu menyoroti kondisi rezim Iran pasca-gelombang unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang negara itu beberapa waktu terakhir. Intinya, rezim tersebut dinilai sedang melemah.

Bahkan, ada yang bilang posisinya sekarang ini adalah yang paling rentan dalam empat dekade terakhir. Sejak Shah Iran digulingkan lewat revolusi 1979 silam, situasinya belum pernah separah ini.

“Laporan tersebut mengisyaratkan bahwa cengkeraman pemerintah Iran terhadap kekuasaan berada pada titik terlemahnya sejak Shah digulingkan dalam revolusi tahun 1979,”

demikian bunyi laporan NYT, seperti dikutip juga oleh The Times of Israel. Beberapa sumber di AS yang memahami informasi itu mengonfirmasi hal tersebut.

Yang menarik, gelombang protes akhir tahun lalu sampai awal tahun ini ternyata menjalar ke daerah-daerah yang selama ini dianggap sebagai basis pendukung kuat Ayatollah Ali Khamenei. Inilah yang konon membuat sejumlah elemen dalam pemerintah Iran benar-benar terkejut.

Memang, aksi unjuk rasa itu sekarang sudah banyak mereda. Tapi bukan berarti masalah selesai. Pemerintah Iran masih terperangkap dalam situasi sulit. Laporan intelijen AS berulang kali menekankan, selain gejolak sosial, ekonomi Iran pun dalam kondisi yang sangat payah.

Di sisi lain, situasi ini rupanya mempengaruhi pertimbangan Trump. Awal bulan ini, dia nyaris memerintahkan serangan ke target-target rezim Iran, sebagai respons atas pembunuhan ribuan demonstran di sana. Tapi, keputusan itu akhirnya ditundanya.

Meski begitu, aset-aset militer AS sudah dikerahkan ke kawasan itu. Laporan NYT ini sendiri muncul persis saat Trump sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya: apakah akan menggunakan kekuatan militer atau tidak.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler