Setelah Banjir Terus Menerjang, 200 Santri di Bali Bertahan Belajar Tanpa Meja dan Buku

- Senin, 05 Januari 2026 | 11:10 WIB
Setelah Banjir Terus Menerjang, 200 Santri di Bali Bertahan Belajar Tanpa Meja dan Buku

Bagi mereka yang tinggal di Pondok Pesantren Thariqul Mahfudz, Oktober 2022 bukan sekadar bulan dalam kalender. Itu adalah kenangan pahit tentang hujan yang tak henti sepanjang malam, disusul banjir yang merusak hampir segalanya. Kitab-kitab penting, catatan pelajaran, perlengkapan belajar semua basah, hancur, bercampur lumpur. Sudah tiga tahun berlalu, tapi bekasnya masih terasa sampai sekarang.

Meja dan buku, misalnya. Sampai saat ini, jumlahnya belum cukup untuk semua santri. Mau tak mau, mereka harus bergantian memakai apa yang ada. Semangat belajar mereka memang tak surut, meski harus berbagi dalam segala keterbatasan.

Wakil Pengasuh pesantren, Ali Fauzi, masih bisa menggambarkan kekacauan saat itu dengan jelas.

Belajar tanpa meja punya konsekuensi yang nyata bagi tubuh. Setiap malam, punggung mereka harus membungkuk. Rasa pegal jadi teman rutin. Tapi, ya, itu semua dijalani dengan satu tujuan: mengejar ilmu untuk masa depan.

Fitriani, salah satu santri, bercerita dengan nada sedikit becanda, meski situasinya tak mudah.

Seolah cobaan belum cukup, banjir kembali datang pada Senin, 15 Desember 2025. Kali ini, menurut Ali, PP Thariqul Mahfudz termasuk yang paling parah terdampak. Area kegiatan sehari-hari kembali terendam. Lagi-lagi, buku dan perlengkapan lain hanyut atau rusak. Ali bilang, skalanya mungkin tak sebesar 2022, tapi kerugian dan gangguan yang ditimbulkan sama besarnya.

Setelah air surut, semua tangan bekerja sama membersihkan lumpur dan kekacauan. Aktivitas belajar pun kembali berjalan, dengan peralatan seadanya yang harus dipakai bergantian. Dalam kondisi seperti ini, harapan Ali sederhana: ada meja lipat agar santri tak perlu lagi membungkuk saat mengaji atau menulis, dan tentu saja, pengganti untuk buku serta kitab yang hilang.


Halaman:

Komentar