Ketegangan Pakistan-Afganistan, India Siap Rebut Pasar Lewat Pelabuhan Chabahar

- Jumat, 19 Desember 2025 | 12:20 WIB
Ketegangan Pakistan-Afganistan, India Siap Rebut Pasar Lewat Pelabuhan Chabahar

Bentrok di perbatasan beberapa waktu lalu benar-benar memukul hubungan Pakistan dan Afganistan. Puluhan korban jiwa. Suasana tegang langsung meruyak. Akibatnya, beberapa pintu perbatasan utama seperti Torkham dan Chaman terpaksa ditutup. Dampaknya langsung terasa: barang tak bisa mengalir, harga-harga melonjak, dan ketegangan antara kedua negara makin menjadi-jadi.

Di sisi lain, penutupan ini ternyata mengubah peta perdagangan regional. India, melihat kesempatan, mulai melangkah. Mereka berusaha mengambil peran sebagai mitra dagang alternatif, mencoba memetik keuntungan dari perseteruan dua sekutu lama itu.

Perdagangan Pakistan–Afganistan Anjlok

Konflik berkepanjangan ini memotong hampir separuh volume perdagangan kedua negara. Padahal, sebelumnya sempat ada angin segar. Pada tahun fiskal 2024–2025, nilai perdagangan bilateral mereka tumbuh 25 persen dan nyaris menyentuh angka US$ 2 miliar. Tapi sekarang? Angkanya merosot drastis jadi sekitar US$ 1 miliar saja.

Khan Jan Alokozay, anggota Dewan Kamar Dagang Afganistan, yang mengonfirmasi penurunan tajam ini.

Bagi Afganistan, keadaan ini tentu berat. Data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tahun 2022 menunjukkan betapa timpangnya neraca dagang mereka: ekspor cuma US$ 992 juta, sementara impor membengkak sampai US$ 5,76 miliar.

Afganistan Mulai Melirik India

Dengan hubungan dagang bersama Pakistan yang menyusut, Afganistan yang sejak Taliban berkuasa relatif terisolasi terpaksa mencari jalan lain. Di sinilah India masuk. Mereka bergerak cepat, memosisikan diri sebagai mitra utama yang baru.

Buktinya, Menteri Perdagangan Afganistan, Nooruddin Azizi, baru-baru ini terbang ke New Delhi. Agenda utamanya merundingkan kerja sama ekonomi yang lebih luas.

Pembicaraan mereka cukup konkret. Mulai dari rencana menambah frekuensi penerbangan kargo ke Kabul dari kota-kota India seperti Delhi, Amritsar, dan Mumbai. Kedua negara juga sepakat menempatkan atase perdagangan di kedutaan masing-masing untuk mempermudah urusan.

Intinya, negosiasi difokuskan pada penurunan tarif, keringanan pajak, dan mengejar target perdagangan bilateral sebesar US$ 1 miliar. Semua itu menandai niat Kabul untuk mengurangi ketergantungan pada pelabuhan dan jalur darat Pakistan.

Chabahar, Kartu As India

Strategi India bertumpu pada satu tempat: Pelabuhan Chabahar di Iran. Bagi Afganistan yang terkungkung daratan, pelabuhan ini adalah gerbang menuju laut lepas tanpa harus melalui Pakistan. India sudah menanamkan investasi besar di sini, dan rute ini kini menjadi alternatif vital untuk impor barang kebutuhan pokok Afganistan.

Sejak hubungan dengan Islamabad memburuk, para pedagang Afganistan memang mulai beralih. Impor pangan, material bangunan, hingga barang konsumsi kini lebih banyak dialirkan lewat Chabahar.

Ajay Bisaria, mantan duta besar India untuk Pakistan, punya pandangan. Menurutnya, India harus mempercepat pengembangan fasilitas di Chabahar. Mulai dari penanganan kontainer, gudang penyimpanan, sampai konektivitas lewat jalur kereta Chabahar–Zahedan. Pelayanan bea cukai juga harus dipercepat.

Dia juga menekankan pentingnya memanfaatkan pembebasan sanksi AS terhadap Chabahar yang diberikan Oktober lalu. Kuncinya, kata Bisaria, adalah menawarkan kecepatan dan keandalan yang bisa menyaingi rute Pakistan yang selama ini lebih murah dan cepat.

Gautam Mukhopadhaya, mantan duta besar India untuk Afganistan, sependapat. Ia melihat krisis antara Pakistan dan Afganistan sebagai peluang strategis bagi India untuk menjadi gerbang perdagangan utama. Tapi dia mengingatkan, semua itu bergantung pada satu hal: apakah rute Chabahar bisa dibuktikan andal dan menguntungkan secara komersial.

Infrastruktur yang Belum Siap dan Ketidakpastian

Memang, tantangannya tidak kecil. Pakar Afganistan, Shanthie Mariet D'Souza, menilai Chabahar masih butuh peningkatan besar. Mulai dari derek di dermaga hingga fasilitas penyimpanan, agar bisa menampung potensi perdagangan Afganistan yang nilainya lebih dari US$ 2 miliar. Aktivasi jalur kereta Chabahar–Zahedan juga disebutnya sangat penting.

Tapi hambatan utama tetap ada. Sanksi AS terhadap Iran masih mengancam, berpotensi menghambat pengembangan infrastruktur. Belum lagi ketidakpastian durasi blokade dagang Pakistan–Afganistan. Dalam kondisi seperti ini, perbaikan sistemik sulit diwujudkan dalam waktu singkat.

D'Souza punya saran. India, katanya, perlu membangun pengaruh jangka panjang dengan merancang kerja sama dagang yang mendorong kemandirian ekonomi Afganistan. Kabarnya, India punya modal reputasi yang baik di mata masyarakat Afganistan, plus hubungan yang cukup pragmatis dengan Taliban.

Semuanya Masih Diwarnai Kewaspadaan

Memang, meski belum mengakui pemerintahan Taliban secara resmi, India dan Afganistan belakangan giat merajut kerja sama bilateral. Dorongannya jelas: kebutuhan mendesak dan dinamika geopolitik di kawasan.

Tapi situasinya bisa berubah. Jika Pakistan nanti melunak, membuka kembali blokade, dan memperbaiki hubungan dengan Kabul, jalur dagang India mungkin akan kesulitan bersaing. Namun, pengalaman pahit Afganistan menghadapi penutupan perbatasan Pakistan di masa lalu bisa jadi pelajaran berharga. Bisa jadi Kabul akan memilih jalur yang lebih stabil dan terdiversifikasi.

T.C.A. Raghavan, mantan Komisaris Tinggi India untuk Pakistan, mengingatkan agar India tidak terlalu cepat berpuas diri. Menurutnya, gangguan perdagangan saat ini belum tentu perubahan struktural yang permanen. Keterbatasan infrastruktur dan masalah sanksi masih jadi hambatan besar.

"Saya tidak melihat kebuntuan ini akan berlangsung bertahun-tahun," ujarnya.

"Tapi kemungkinan perbaikan cepat dalam waktu dekat juga kecil."

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler