Pernyataan tegas kembali datang dari Moskow. Vladimir Putin, dalam sebuah pertemuan dengan pejabat tinggi militer, menyatakan keyakinannya bahwa tujuan Rusia di Ukraina pasti akan tercapai. Dia tak hanya bicara soal kemenangan di medan perang, tapi juga soal klaimnya atas wilayah-wilayah yang sudah dianeksasi.
“Tujuan operasi militer khusus pasti akan tercapai,” ujar Putin, seperti dilaporkan AFP, Rabu (17/12/2025).
Namun begitu, dia juga menyisipkan nada diplomasi. “Kami lebih suka melakukan ini dan menghilangkan akar penyebab konflik melalui diplomasi,” sambungnya.
Perkataan itu sekaligus jadi peringatan. Putin berjanji akan merebut wilayah yang diklaimnya itu dengan cara militer, jika Ukraina dan para pendukungnya di Barat menolak duduk untuk pembicaraan yang serius. Komentar keras ini muncul di saat yang cukup menarik.
Di sisi lain, Kyiv justru sedang menunjukkan sinyal positif. Ukraina baru saja memuji adanya “kemajuan” dalam pembicaraan soal jaminan keamanan masa depannya. Pembicaraan itu berlangsung di Berlin, melibatkan utusan dari pemerintahan Donald Trump AS, dan berjalan selama dua hari.
Tapi, tampaknya jalan menuju meja perundingan masih terjal. Presiden Volodymyr Zelensky dengan gamblang mengakui bahwa perbedaan pendapat masih besar, terutama menyangkut wilayah mana saja yang harus diserahkan.
Masalahnya rumit. Usulan awal dari Washington yang konon disusun tanpa berkonsultasi dengan sekutu Eropa Ukraina bisa dibilang cukup berat untuk Kyiv. Intinya, Ukraina harus menarik diri dari Donetsk timur. Dan secara de facto, Amerika Serikat akan mengakui Donetsk, Krimea, dan Lugansk sebagai bagian dari Rusia.
Menanggapi perkembangan di Berlin, Kremlin punya respons yang singkat: mereka menunggu. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Rusia sedang menanti informasi dari AS tentang hasil pembicaraan tersebut.
“Kami berharap, segera setelah mereka siap, rekan-rekan Amerika kami akan memberi tahu kami tentang hasil kerja mereka dengan Ukraina dan Eropa,” kata Peskov kepada para wartawan.
Klaim teritorial Rusia sendiri bukan hal baru. Sudah sejak September 2022, Moskow secara resmi menyatakan telah mencaplok empat wilayah: Zaporizhzhia, Donetsk, Lugansk, dan Kherson. Meski kenyataannya, kendali militer penuh atas keempatnya belum sepenuhnya berada di tangan Rusia. Situasinya masih berdarah-darah dan berubah-ubah di lapangan.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi