Mau mudik atau sekadar liburan akhir tahun? BMKG baru saja merilis platform khusus untuk memantau cuaca selama musim Natal dan Tahun Baru. Layanan ini, yang mereka sebut informasi cuaca Nataru, bisa jadi andalan buat kamu yang bakal banyak bepergian entah lewat darat, udara, atau laut.
Menurut rilis resminya, ada tiga jalur informasi yang disediakan. Pertama, Digital Weather for Traffic (DWT) buat pantauan cuaca di jalan. Lalu ada System of Interactive Aviation Meteorology (INASIAM) yang fokus ke kondisi penerbangan. Terakhir, Indonesia Weather Information for Shipping (INAWIS) menyajikan data cuaca untuk pelayaran dan pelabuhan.
Nah, gimana cara pakainya? Simak langkah-langkah sederhana berikut.
Pantau Cuaca di Jalan
Buka situs cuaca.bmkg.go.id/trans. Pilih menu Digital Weather for Traffic. Nanti akan muncul peta prakiraan cuaca seluruh Indonesia. Kalau mau lihat kondisi daerah tertentu, tinggal klik kolom "Cari lokasi" di pojok kanan atas. Ketik nama kota atau kabupaten, lalu pilih. Informasi cuaca lokal pun langsung tampil.
Buat yang Naik Pesawat
Masih dari laman yang sama, cuaca.bmkg.go.id/trans, kali ini pilih opsi INASIAM. Tampilannya berubah jadi fokus pada navigasi udara. Untuk mengecek bandara tujuan, cari tombol "Search Airport" di kiri atas. Masukkan nama bandara, klik, dan data cuaca terkini untuk penerbangan akan muncul.
Kalau Melaut atau ke Pelabuhan
Prosedurnya mirip. Akses laman tadi, lalu klik menu INAWIS. Di sini kamu bisa melihat prakiraan cuaca maritim serta kondisi di berbagai pelabuhan. Cukup praktis untuk nelayan atau penumpang kapal.
Siaga Hujan Lebat Hingga Januari
Di sisi lain, BMKG mengingatkan bahwa waspada itu perlu. Potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi diprediksi bakal berlangsung sampai Januari 2026. Ini berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan pola musim yang mereka sampaikan dalam rapat persiapan libur Nataru.
Guswanto, Plt. Sekretaris Utama BMKG, menjelaskan bahwa Desember hingga Januari nanti memang bertepatan dengan puncak musim hujan.
"Yang perlu diwaspadai adalah tingginya intensitas hujan, angin kencang, gelombang tinggi, serta potensi dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas transportasi darat, laut, dan udara selama Nataru," katanya.
Daerah yang perlu bersiap terutama adalah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan sebagian besar Kalimantan.
BMKG memetakan periode Nataru ini dalam tiga fase. Mulai 15-22 Desember didominasi hujan lebat. Lalu 22-29 Desember cenderung mereda. Namun, memasuki 29 Desember hingga 10 Januari, intensitas hujan diprediksi meningkat lagi seiring pergeseran puncak hujan ke wilayah Jawa.
Guswanto menambahkan, sejumlah fenomena alam seperti Monsun Asia, La NiƱa lemah, dan munculnya bibit siklon tropis 93W dan 91S, akan aktif bersamaan. Kombinasi ini berpotensi memperkuat hujan dan angin kencang di berbagai daerah.
Jadi, siapkan rencana perjalanan dengan matang. Cek cuaca dulu sebelum berangkat, karena kondisi diperkirakan tak terlalu bersahabat.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi