Amuk Massa di Kalibata, 6 Anggota Polri Jadi Tersangka Pengeroyokan Matel

- Senin, 15 Desember 2025 | 07:35 WIB
Amuk Massa di Kalibata, 6 Anggota Polri Jadi Tersangka Pengeroyokan Matel

Suasana di depan TMP Kalibata, Jakarta Selatan, berubah jadi mencekam. Awalnya cuma keributan, tapi eskalasinya cepat sekali. Massa yang marah akhirnya membakar apa saja yang mereka temui kios berjejer dan beberapa motor hangus jadi korban amuk massa. Pemicu semua ini? Kabarnya, dua orang debt collector, atau yang biasa disebut 'matel', dikeroyok sampai tewas.

Menurut informasi, peristiwa pengeroyokan itu sendiri terjadi Kamis sore lalu, tepatnya pukul 15.45 WIB, di area parkir depan TMP Kalibata. Laporan pertama tentang dua pria yang dikeroyok diterima Polsek Pancoran.

Korban pertama, MET (41), meninggal di tempat kejadian. Nasib tragis juga menimpa korban kedua, NAT (32). Dia sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong.

Polisi pun tak tinggal diam. Mereka bergerak cepat dan, dalam waktu singkat, sudah menetapkan enam orang sebagai tersangka. Yang mengejutkan, keenamnya adalah oknum anggota satuan Yanma Mabes Polri. Selain proses hukum, mereka juga bakal menghadapi sidang etik internal polisi pekan depan.

“Terhadap 6 terduga pelanggar akan dilaksanakan Sidang Komisi Kode Etik pada hari Rabu, pekan depan tanggal 17 Desember 2025,”

Demikian penjelasan Karo Penmas Dihumas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (12/12).

Trunoyudo menambahkan, keenam anggota itu JLA, RGW, IAB, IAM, BN, dan AM terbukti melanggar aturan kode etik. Pelanggaran serius ini ancamannya jelas: pemecatan. Mereka diduga kuat melanggar Pasal 17 Ayat 3 Perpol No 7 Tahun 2022.

Inilah daftar keenam tersangka tersebut:
1. Brigadir IAM
2. Bripda JLA
3. Bripda RGW
4. Bripda IAB
5. Bripda BN
6. Bripda AM

TKP Pengeroyokan Porak Poranda

Dampak kerusuhannya parah. Tak tanggung-tanggung, sembilan kios dan enam sepeda motor dilalap si jago merah. Puing-puing sisa kebakaran itu berserakan, dan akhirnya diangkut menggunakan truk sampah.

Minggu pagi (14/12), sisa-sisa kepiluan masih terasa. Petugas PPSU dan Dinas Lingkungan Hidup terlihat sibuk membersihkan lokasi. Mereka gotong royong mengangkut material yang sudah hangus dan tak terpakai. Beberapa warga sekitar juga ikut membantu, mencoba mengembalikan tempat itu ke keadaan semula.

Di tengah kehancuran itu, satu kios masakan Aceh masih bertahan, tetap beroperasi. Sementara lapak-lapak di sekitarnya terlihat rusak berat. Sesekali terlihat orang keluar-masuk sisa kios, berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan atau sekadar membersihkan debu dan abu yang menempel di mana-mana.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler